Retrouvailles

Jemariku mengetik keyboard dengan lembut di saat neuron otakku merangkai kata. Duduk aku di sini, mencoba berdamai dengan aksara. Aku heran karena biasanya aku berjalan beriringan dengan mereka. Tapi ternyata ketika tentangmu, banyak hal yang tak masuk dalam logika.

September.
Masih terekam jelas irama suaramu menyampaikan sukacita akan datangnya bulan ini. Bulan yang penuh cinta, begitu katamu, tujuh belas hari yang lalu.

Sejak itu aku bertekad, aku akan menulis sesuatu untukmu. Sesuatu yang akan kurangkai dengan sangat indah, dengan kata-kata pujangga.

Lalu kuhabiskan waktu untuk berpikir, mengenai apa yang akan kutulis, cerita apa, bagaimana, filosofi apa, kapan, dan berbagai episode-episode yang kureka sendiri menari-nari dalam benakku. Perlahan-lahan kubebaskan jemariku berkreasi, membentuk tulisan panjang.

Continue reading