Kala

Kala (kb. Waktu)

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

Begitu indah untaian sajak Sapardi Djoko Damono. Andai aku diminta untuk bersemedi puluhan tahun, pun belum tentu bisa merangkai sepiawai itu. Ah, tak mengapa. Toh, aku bukanlah sastrawan. Aku hanya salah satu dari segelintir penganggumnya. Bagiku beliau adalah pahlawan, yang berhasil menjawab tanda tanya dan obsesiku tentang waktu.

Sejak kutemukan puisi yang ditulis tahun 1982 itu, aku tak pernah lagi terlalu larut berpikir tentang waktu. Karena waktu adalah sesuatu yang fana. Kita yang abadi.


Namun segala sesuatu memang sudah ada masanya masing-masing. Setelah sekian lama merasa puas, akhir-akhir ini konsep tentang waktu ini kembali mengusik.

Beberapa hari yang lalu aku mendengar bahwa ada suatu tempat yang mengizinkan kita untuk berkelana dengan waktu. Mampu menengok beberapa tahun ke depan, atau memutar mundur masa yang silam. Syaratnya hanya satu, jikalau kamu memang benar-benar orang terpilih.


Ceritanya tak sengaja aku mencuri dengar percakapan di kantin kampus. Rombongan mahasiswa pecinta alam mengatakan bahwa ada sebuah goa di lereng gunung yang mampu berfungsi seperti mesin waktu. Goa Kala namanya. Beberapa orang sudah mengalaminya, begitu kata penduduk yang tinggal disekitar situ.


“Tapi kita tidak bisa kemana-mana, tetap di goa itu saja,“ kata seseorang dari mereka yang berambut gondrong, “kalau kau keluar goa, kau akan tersesat dan tak bisa kembali. Paling-paling namamu akan masuk daftar ‘orang hilang’.”


“Lah, esensi ‘mesin waktu’nya dimana kalau tetap di goa?,” tanya seorang lagi diantara mereka, “emangnya kita Ashabul Kahfi*?”


“Katanya, goa itu juga akan berubah menjadi tempat yang kita inginkan,” sambung si gondrong, “orang yang beruntung itu cukup memikirkan lokasi yang ingin ia datangi, dan waktunya kapan. Tapi waktunya tak lama. Hanya satu jam, sebelum akhirnya kau akan kembali ke masa sekarang, di goa itu lagi.”


Setelah kejadian di kantin itu, aku selalu terpikir soal Goa Kala. Aku selalu berpikir, apa mungkin? Rasanya hanya seperti dongeng penduduk setempat saja. Melebih-lebihkan cerita supaya mereka punya daya tarik bagi wisatawan. Mirip dengan fenomena desa hantu yang terkenal di berbagai pelosok. Bahwa ada desa yang disihir untuk terkadang terlihat, terkadang hilang. Konon katanya, dukun paling hebat memasang pagar agar desa tersebut tidak bisa kelihatan oleh orang luar, agar aman dari penindasan dan serangan di zaman penjajahan.


Tak masuk akal bukan? Aku tahu ini tak masuk akal. Begitu pula dengan cerita soal Goa Kala. Tapi kenapa aku selalu terpikir akan hal itu?

Hari ini, hari ketiga setelah kejadian di kantin. Dan aku masih merasa tidak tenang. Aku tahu ini petunjuk. Firasat. Panggilan. Atau apapun namanya. Aku harus pergi ke goa itu.

Fajar kali ini aku sibuk berkemas. Mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Memakai jaket dan menggendong ransel berisikan pakaian ganti, air minum, dan dua kaleng nasi ransum militer untuk bekal perjalanan. Berdasarkan petunjuk yang sudah kukumpulkan sebelumnya, aku akan pergi kesana.


Aku menaiki kereta. Berhenti di salah satu kota, lalu menyewa sepeda motor. Setelah satu setengah jam mengendarai motor, aku tiba di lokasi. Desa terdekat dengan Goa Kala.


“Goa Kala?” Bapak yang kutemui di jalan itu mengulang pertanyaanku. Punggungnya memanggul karung goni yang berisikan jerami.


“Iya, bapak tahu dimana lokasinya?”


“Wah, agak masuk ke dalam hutan Den. Nanti terus aja, setelah balai desa, ada jalan setapak di kiri jalan. Masuk ikutin jalan. Tapi jauh Den, sekitar lima belas kilo. Motornya diparkir di balai desa aja.”


Aku mengangguk mendengarkan.


“Tapi,” sambungnya ragu, “ga semua orang bisa nemu goa itu Den. Kadang-kadang cuma muter-muter aja di hutan sampe magrib, terus kembali lagi keluar. Hati-hati Den.”


“Terima kasih Pak,” jawabku sambil tersenyum. Aku pun melanjutkan perjalanan.


Kulirik arloji. Pukul dua. Udara perdesaan memang menyenangkan. Angin menyapa lembut kulit mukaku. Daun-daun di pepohonan yang berjejer membentuk barikade mengayomi pejalan kaki yang berjalan di bawahnya. Siang ini tak begitu terasa terik.


Tak ada yang tahu perjalananku ke desa ini. Sebenarnya ini misi yang tak masuk akal. Kalau ada yang tahu, aku pasti jadi bahan tertawan. Tapi ini satu-satunya jalan untukku menemuimu, menengok kehidupanmu di masa yang akan datang. Aku berharap kamu baik-baik saja. Kamu, seseorang yang sekarang aku tak tahu dimana.


Aku memasuki jalan setapak. Tangan kananku memegang pisau untuk menebas semak yang menghalangi jalan. Awalnya tadi tidak begitu banyak semak belukar, namun semakin masuk ke dalam hutan, jalan terasa menyempit dan gelap. Pohon-pohon semakin besar dengan dedaunan yang lebat. Hanya sinar matahari yang nakal yang mampu menyelinap melalui sela-selanya, menyinari tanah yang lembab oleh humus.


Aku terus berjalan. Peluhku mengucur. Baju yang kupakai sudah hampir setengahnya basah. Suara jangkrik khas pedesaan juga sudah mulai terdengar. Pertanda waktu sudah mulai beranjak senja.


Aku berhenti sejenak. Badanku sudah terasa lelah. Kuarahkan pandangan menyusuri sekeliling. Pohon. Semak. Dedaunan. Pemandangan yang sama yang terlihat selama kurang lebih tiga jam berjalan. Apa sebaiknya aku pulang saja?

Tapi lucunya seketika aku berpikir seperti itu, kakiku malah kembali melangkah. Seakan tak mengizinkanku untuk menyerah, aku kembali berjalan.


Hari sudah hampir gelap sebelum pada akhirnya aku terhenti. Di depanku terlihat gundukan batu penuh lumut yang sangat besar dengan lubang seukuran pintu di bawahnya. Gola Kala. Ya, aku yakin ini tempatnya.


Dengan perasaan yang masih membuncah, perlahan aku melangkah masuk. Kunyalakan senter meski sebenarnya belum begitu gelap. Goa ini tak seperti bayanganku sebelumnya. Setelah melewati lorong sekitar dua meter, sampailah aku di sebuah ruangan kecil, yang hanya cukup untuk empat orang.


Aku duduk di sebuah bongkahan batu. Kuluruskan kedua kakiku kedepan, kemudian menegak air minum yang baru saja kukeluarkan dari ransel. Setelah ini apa? Apa benar goa ini bisa menghantarkanku menemuimu? Atau jangan-jangan aku hanya bisa pulang dengan pengalaman bodoh demi mengejar sebuah permintaan maaf?


Kusandarkan tubuh pada dinding goa. Kupejamkan kedua mata, sembari mengatur nafas yang masih terengah-engah. Aku menarik nafas panjang, sebelum menghembuskannya. Menarik nafas lagi, kemudian menghembuskannya. Begitu terus beberapa kali.

Kebingungan yang tadinya menari-nari dalam pikiranku pun semakin mereda seiring dengan keluar masuknya hembusan nafasku. Tak lama kemudian, aku tertidur.

Entah berapa lama aku terlelap, sebelum pada akhirnya bangun dan sudah berada di sini. Duduk di tepi sebuah danau dengan kamu di sampingku. Aku tahu, Goa Kala telah memilihku. Ia sedang melaksanakan tugasnya.


“Apa kabar?,” kamu bertanya. Balutan gaun putih dan riasan membuat kamu terlihat jauh lebih dewasa daripada terakhir kita bertemu. Kutebak sekarang mungkin sekitar sepuluh tahun yang akan datang.


“Baik,” jawabku kikuk, masih tak percaya. Jantungku berdegub kencang seperti saat pertama kali aku mengajakmu makan malam. “Kamu?”


“Aku bahagia,” jawabmu tersenyum, lalu memamerkan deretan gigimu yang putih dan cantik. Hal yang selalu aku rindukan selama ini.


“Oh ya?,” mataku membesar. Syukurlah kamu masih memilih bahagia meskipun aku telah menyakitimu. Dulu kamu terlihat begitu terpuruk sampai pergi tanpa pamit.


“Aku minta maaf,” sambungku cepat.


“Ga perlu minta maaf,” jawabmu ringan. “Aku bahagia kok sekarang.”


Aku terdiam. Tak mengerti.


“Kamu kenapa?,” tanyamu. “Kamu ga bahagia?”


Aku masih terdiam.


“Sini aku ajak kamu untuk bahagia,” kamu lalu menarik lenganku, membuatku beranjak dari tempat duduk.


“Mau kemana?,” tanyaku semakin tak mengerti.


Kamu terus menarikku. Melangkah maju menuju danau. Beberapa saat kemudian aku merasa berjalan menembus kabut udara yang tak terlihat. Rasanya hilang, lepas. Aku tahu kamu telah menarikku keluar dari Goa Kala, dan aku tak akan pernah bisa kembali lagi.


Kini, kita sudah berdua berdiri di atas air. Dengan senja yang mengintip malu di samping kita. Kamu memandangku. Aku memandangmu. Kedua tanganmu memegang erat tanganku.


“Kita disini,” jawabmu. “Di tempat yang fana adalah waktu. Kita abadi.”

——–

Palembang, 30 Juni 2015
Untuk Penulis Sajak Hujan di Bulan Juni,
Bapak Sapardi Djoko Damono.


Tulisan ini sebelumnya hanya tersimpan rapi di dalam e-mail. Hari ini saya post di blog. Sang Pujangga telah meninggalkan kita, semoga Husnul Khatimah. Amin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s