Suasana Pasar Tradisional di Port Moresby

Pertama-tama untuk kesekian kalinya saya alan menjelaskan bahwa Port Moresby bukanlah sebuah kota yang termasuk kategori aman, tetapi rawan. Hampir setiap hari kami di sini mendengar cerita tentang perampokan. Dan kejadian itu bisa terjadi di mana-mana: di depan rumah, di pinggir jalan, di tengah jalan, di rumah sakit, di ruang tunggu airport, di rumah makan dan sebagainya. Masyarakat setempat menyebut para perampok itu dengan sebutan raskol.

Dikarenakan hal tersebut, kejadian saya pergi ke pasar tradisional merupakan peristiwa langka. Kemarin adalah kali pertama saya pergi ke pasar tradisional setelah hampir delapan bulan saya tinggal di sini.

Bagaimana rasanya? Jujur, saya ketar-ketir. 🤣 Bermula pada awalnya saya mengajak suami saya untuk membeli sayur, suami saya malah mengajak saya pergi ke pasar di pinggir jalan. Sebenarnya tempat pertama ini bukanlah pasar tradisional, tetapi hanya jualan di pinggir jalan.

Caption: Suami dan anak. Makin ketar-ketir saya bawa anak jalan-jalan ke pinggiran jalan di Port Moresby.<<<<<<
pat di belakang salah satu kantor pemerintah. Jadi penduduk memanfaatkan lahan kosong di sekitar kantor tersebut dengan menanaminya berbagai jenis sayuran, yang juga langsung dijual di pinggir jalan tersebut.

<<<<<<<<<
jual sayuran, mereka juga menjual buah-buahan dan jagung bakar. Uniknya, jagung bakar dibakar begitu saja. Tidak dikupas, tidak diberi bumbu. Bagaimana rasanya? Maaf, saya tidak tertarik untuk mencobanya.

<<<<<<<<<
aktu kami berada di sana, ada juga mobil yang berhenti di pinggir jalan untuk membeli jagung bakar itu. Penjualnya langsung mengupaskan jagung tersebut, dan memberikan kepada pembeli begitu saja. Oh ya, sekedar informasi bahwa di sini penjual tidak pernah menyediakan kantong plastik, kecuali di supermarket. Jadi kalau mau berbelanja ya bawa kantong plastik sendiri, termasuk membeli jagung bakar tadi.

Sorenya, saya, suami, dan tetangga saya beserta ART-nya yang merupakan orang lokal PNG memutuskan pergi ke pasar tradisional. Kehadiran Ibu ART yang merupakan orang lokal membuat kami menjadi berani untuk 'berpetualang' di pasar tradisional.

Caption: saya, suami saya, tetangga saya dan Ibu ART yang orang lokal PNG<<<<<<<<<
idak jauh dari tempat tinggal kami. Sebenarnya kalau di Indonesia kalau naik ojek paling cuma bayar lima ribu rupiah, hehehe Sayangnya di Port Moresby ga ada ojek. Jangankan ojek, sepeda motor pun hampir tidak ada di sini. Mungkin mengingat betapa rawannya kota ini.

Suasana pasar tradisional di sini sedikit berbeda dengan pasar di Indonesia. Pasar di Indonesia lebih ramai, lebih banyak produk yang ditawarkan, mulai dari kebutuhan pokok, sembako, sampai bumbu-bumbu pelengkap. Tapi di pasar yang saya datangi hanya menjual hasil tani dan nelayan saja, tanpa menjual bumbu-bumbu apalagi sembako. Ga tau ya kalau di pasar tradisional lain. Konon katanya sudah ada beberapa toko klontong milik orang China pendatang.

Caption: Suasana pasar tradisional di Indonesia (Foto: IG @deddyhuang)<<<<<<
a-tama kami membeli ikan di salah satu kios ikan. Harganya rata-rata dua puluh Kina per ekor/per ikat. Lagi-lagi seperti di Pasar Ikan Koki (Baca: Berburu Ikan di Koki Fish Market) di sini harus pintar menawar atau setidaknya tahu harga. Jadi kalau harga yang ditawarkan terlalu mahal, ya tinggal ditawar atau tidak jadi beli.

<<<<<<
an kami berkeliling ke tempat yang menjual sayur dan buah. Harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan di supermarket. Jauh.. hehehe tapi ya sebanding juga dengan keamanan dan kenyamanan ya.. Di kota ini harga keamanan terutama sungguh mahal. (Baca: Berapa Biaya Hidup di Port Moresby?)

<<<<<<
i berbelanja saya pulang dengan perasaan senang dan syukur. Saya senang punya pengalaman baru hari ini. Di sisi lain saya bersyukur mengingat keadaan di tanah air tercinta. Ya tidak perlu saya jabarkan lebih jauh kenapa bisa bersyukur, saya rasa Anda sudah bisa menebak alasannya.

<<<<<
asti, saya antara sedih dan tidak sabar ingin segera pulang ke Indonesia. Dua bulan lagi, InsyaAllah. Dan sembari menunggu, izinkan saya terus bercerita mengenai kota ini ya, buat kenang-kenangan saya nanti. ☺️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s