Kembali ke Kehidupan Sederhana di Port Moresby

Pernah main game Harvest Moon? Salah satu game di konsol Playstation 1 yang dulu saya, teman-teman, dan seluruh kakak-kakak saya sangat suka mainkan. Permainan tentang seorang anak yang harus kembali ke desa dan bercocok tanam. Di desa tersebut, kehidupan sangatlah sederhana. Hanya ada satu rumah sakit, satu penginapan, satu tempat ibadah, satu perpustakaan, satu orang pengantar surat, satu tempat penjualan pakan ternak, satu orang pandai besi, dan satu-satu yang lainnya. Kehidupan dijalani sehari demi sehari. Bangun pagi, sarapan, bercocok tanam, memberi makan ternak, memanen, menjual hasil kebun, tidur, lalu bangun pagi lagi. Sesekali ada selingan kegiatan. Kalau sakit, ya pergi ke satu rumah sakit itu. Kalau mau upgrade alat pertanian, ya ke rumah pandai besi itu. Dst. Dst. 

Permainan tersebut kembali memenuhi ingatan saya ketika saya datang ke kota yang saya tinggal sekarang, Port Moresby. Tidak seekstrim game tersebut memang. Tapi kalau boleh jujur, kurang lebih mirip lho. Menjalani hari sehari demi sehari, dengan sesekali selingan pergi ke tempat yang juga itu-itu juga. Ya, saya sekarang tinggal di ibu kota negara, yang tidak memiliki banyak pilihan. 

Port Moresby City Hall

Pilihan. Menurut saya, hal itulah hal yang mendasari bedanya tinggal di sini dengan di Indonesia. Pertama, izinkanlah saya bercerita sekilas tentang Port Moresby. 

Port Moresby atau Pot Mosbi atau POM City adalah ibu kota Negara Papua Nugini yang baru saja merayakan hari kemerdekaannya yang ke-42. Meskipun sebagai ibu kota negara, POM terkesan tidak seperti ibu kota negara pada umumnya. Berpenduduk kurang lebih empat sampai lima ratus ribu jiwa, POM lebih mirip sebuah kota kabupaten kalau di Indonesia. Satu buah mall, beberapa hypermarket, beberapa rumah sakit/klinik kesehatan, beberapa taman hiburan, beberapa hotel, dan beberapa-beberapa yang lainnya. Kenapa beberapa? Karena seingat saya, jumlah tempat umum di POM masih terbilang terbatas. 

Itulah yang menyebabkan kami yang tinggal di sini kurang memiliki pilihan. Terbatasnya pilihan. Pilihan untuk berbelanja, pilihan untuk jajan, pilihan untuk jalan-jalan, dan pilihan-pilihan lainnya. Berbelanja contohnya, kalau tidak ke Vision City Mega Mall (Satu-satunya mall setahu saya di POM), ke hypermart RH, ke SVS, ke Brian Bell untuk berbelanja kebutuhan rumah, ke Tango, atau ke Food World. Isinya pun mirip-mirip. Jangan harap bisa nemu Tanah Abang atau Thamrin City versi Luar Negeri di sini. Atau toko buku macam Gramedia? Belum pernah nemu juga hehehe. Paling saya pernah lewat di depan toko semacam awul-awul yang menjual baju bekas dari Australi. Pasar tradisional? Cukup berbahaya jika didatangi oleh saya yang kelihatan banget muka pendatang di sini; karena kota ini masih rawan oleh perampok yang tidak segan-segan menodongkan senjata api. 

Vision City Mega Mall Port Moresby

Pilihan jajanan? Ini faktor antara syukur sama sedih sih. Syukur karena tidak membuat boros karena terbatasnya tempat jajan, dan tidak membuat tubuh makin melebar juga, tapi sedih karena memang jadi kurang variasi makanan buat saya yang suka banget jajan. πŸ˜‚ Saya ga pernah nemu penjual street food di sini macam tukang kebab, tukang bakso (menurut ngana?), dan sebagainya. Mau jajan, ya ke restoran, rumah makan, atau food court. Dan itu pun terbatas jumlah dan variasinya.

Lalu bagaimana dengan jalan-jalan? Di sini ga ada sejenis Dufan, Trans Studio, apalagi Disneyland. Adanya Adventure Park, Zoo, dan mall satu-satunya itu. Cuaca panas yang kurang ramah bagi bayi juga menyebabkan saya semakin terbatas lagi pilihan jalan-jalannya. Pernah sekali mengajak anak saya yang waktu itu berusia lima bulan ke Adventure Park, ternyata diisi dengan saya yang mengibas-ngibaskan kain mengusir nyamuk, dan anak saya yang kepanasan lalu tertidur di gendongan ayahnya. πŸ˜…

 Nah, karena itu kehidupan saya di sini ya terkesan gitu-gitu aja. Bangun pagi, beres-beres, mandiin anak, makan, ngasih makan anak, jagain anak, tidur siang, main sama anak, terus tidur lagi malam harinya. Dan diulang lagi keesokan harinya. Sesekali ada selingan kalau ibu-ibu ada kegiatan macam arisan sebulan sekali, kumpul-kumpul, atau kegiatan kantor seperti persiapan hari besar nasional. Selingan di weekend juga kalau ayahnya tidak bekerja, kami akan berjalan-jalan ke tempat yang juga itu-itu tadi. 

Cukup mirip dengan kehidupan di Harvest Moon, Bukan?

Nah, keputusan saya untuk kembali bercerita di blog saya ini adalah salah satu cara saya mencari alternatif selingan di kota ini. Sebenarnya kepikiran dari kemarin-kemarin buat nulis lagi, tapi terkendala faktor malas dan prioritas saya yang lagi getol-getolnya belajar masak. πŸ˜‚

Semoga saya segera kembali buat bercerita banyak hal di kota ini ya.. Kota dengan kehidupan sederhana, yang akan menjadi salah satu tempat kenangan perjalanan hidup saya. 😊

9 thoughts on “Kembali ke Kehidupan Sederhana di Port Moresby

    • Masalahnya mbak, aku dilarang make money disini.. Hahaha semua ada celah mbak.. Apalagi digital printing.. Banner di Indonesia cm 60rb disini bs 800rb an dgn ukuran sama πŸ˜‚

      Like

    • Aaa… Nike.. Maaf baru buka wordpress di web baru ada notif klo ada comment dari nike.. I miss you too.. Salam sayang buat Aya dan Elang.. Semoga keluarga Nike jg selalu bahagia yaaa 😘

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s