Anak adalah Sekolah Kepribadian Nomor Satu di Dunia

Perbicangan mengenai tumbuh kembang anak memang tiada habisnya. Mungkin kalimat ini adalah kalimat yang menggambarkan tentang kehidupan saya sekarang. Semuanya tentang anak. 

Menjadi orangtua adalah hal yang sangat mempengaruhi hidup saya. Menjadi orangtua lebih mengubah ritme hidup saya dibandingkan pindah sekolah, ganti pekerjaan, bahkan menikah. Tidak bermaksud mengecilkan makna pernikahan, tidak. Bahkan memiliki anak adalah bagian dari buah pernikahan itu sendiri; dan mendidik anak menjadi pribadi yang baik adalah salah satu tujuan pernikahan kami. 

Namun memang, memiliki anak sangatlah mengubah pola hidup saya. Saya yang dahulunya doyan banget tidur, menjadi minim waktu tidurnya dibandingkan ketika belum punya anak. Saya yang dahulunya sering banget punya me time, kini berubah menjadi me-and-my-daughter time. Saya yang dahulunya punya pekerjaan tetap, memutuskan berhenti dari pekerjaan saya, bahkan pada saat masih mengandung, beberapa bulan sebelum anak saya lahir ke dunia. 

Bacaan-bacaan saya pun berubah. Mulai sering membaca buku parenting, artikel-artikel kesehatan anak, dan sebagainya. Memiliki anak memaksa saya juga untuk serba bisa dan ‘sempurna’. Menjadi dokter dadakan yang harus tahu penanganan pertama jika ia sakit. Mengingat berbagai macam jenis komposisi obat yang akan diberikan padanya untuk pertolongan pertama. Memasak mpasi-nya dengan berbagai macam cara yang sebenarnya simple tapi jadi susah buat saya yang basic memasaknya nol. Melatih kesabaran saya di saat ia lagi susah banget diajak kompromi (baca: makan), dan sebagainya. 

Mendidik dan merawat anak adalah hal yang sangat menantang, apalagi untuk orangtua baru minim pengalaman seperti saya. Menurut saya, anak mengajarkan sabar dari dua sisi. Sisi untuk tetap tenang jikalau ada banyak hal yang tidak sesuai prediksi; seperti pada saat anak sakit, sulit makan, dan sebagainya. Di sisi lain, juga belajar untuk menahan diri agar tidak sombong jika ada keberhasilan yang saya capai terkait dengan anak saya. 

Dua sisi yang sebenarnya kalau saya perhatikan sering memicu adanya “mommies war”, dimana seorang ibu merasa menjadi ibu yang lebih baik dibandingkan ibu yang lainnya. Lucu memang, tapi itulah realita yang saya tangkap banyak berseliweran di sekitar kita sekarang. Dari proses melahirkan, memberikan susu anak, cara memberi makan, bahkan pilihan memakaikan popok bisa membuat seseorang merasa lebih dibanding yang lainnya. Padahal kalau dipikir ya.. Banyak hal di luar hal-hal teknis tersebut yang lebih penting dalam proses membesarkan anak. Bagaimana penanaman nilai atau value kepada anak tersebut, termasuk dengan mengajarkan supaya tidak selalu membandingkan diri dengan orang lain, apalagi terus-menerus merasa lebih baik/buruk dibandingkan orang lain. 

Memiliki anak juga mengajarkan saya untuk pandai memilah informasi tanpa harus merasa lebih pintar dari yang memberikan masukan. Biasanya ini datangnya dari ibu-ibu yang jauh lebih berpengalaman. Banyak hal yang saya baca di artikel tidak sesuai dengan masukan yang mereka katakan. Misal: memberikan kopi supaya tidak step/kejang demam, memberikan madu untuk menambah nafsu makan pada bayi di bawah setahun, meminum obat ketika bayi sakit sehingga khasiat obatnya keluar melalui ASI, mengeluarkan ASI terlebih dahulu sebelum menyusui karena ASI nya sudah basi, dan sebagainya. 

Saran-saran yang sudah banyak dinyatakan mitos oleh berbagai artikel kesehatan memang, tapi kembali lagi saya belajar untuk tidak serta merta menolak dan meremehkan masukan mereka. Meski jujur, saya juga tidak melakukan apa yang mereka sarankan karena tidak masuk di nalar saya. Namun saya memilih untuk tidak bersikap antipati, sebagai bentuk sopan saya kepada orang yang lebih tua tentunya. Jikalau ada unsur yang membuat saya tidak nyaman dengan perlakuan mereka, saya juga memilih untuk tidak membuat status mengejek mereka di sosial media. Rasanya saya ga mau jadi anak yang baru baca ayahbunda kemarin sore, tapi merasa lebih pintar daripada mereka. Toh, saya dulunya adalah bayi produk jaman dulu, dan baik-baik saja pada saat sekarang. Karena mungkin lho ya, mungkin, masukan-masukan mereka tidak sepenuhnya salah.

Lihat, kehadiran anak membuat saya terkesan sangat bijaksana, Bukan? 😂

Pada akhirnya, tentu saya bukanlah ibu yang sempurna. Jauh dari kata sempurna memang. Tulisan-tulisan di atas adalah hasil pengendapan pemikiran saya yang ditulis di saat saya lagi agak tenang. Praktiknya bagaimana? Silakan tanya suami saya… 😅

Saya, mama yang suka banget panik. Kalau panik suka gusar sendiri. Terkadang marah, terkadang nangis. Apalagi kalau anak sedang sakit. Anak saya nangis, saya ikutan nangis sambil gendong dia.

Saya, mama yang juga suka ga sabar kalau anak sedang melancarkan aksi tutup mulut. Segala teori responsive feeding yang saya baca menguap entah kemana diganti dengan kepanikan dan pemikiran yang engga-engga ke depannya. 

Saya, mama yang sering merasa gagal karena tidak bisa melakukan hal-hal ideal yang saya baca/dengar sebelumnya. Lalu uring-uringan dan merasa jadi ibu yang buruk, tapi mengulanginya lagi keesokan harinya. 

Saya, mama yang sering sekali meminta maaf kepada anak saya, karena merasa telah melakukan hal yang salah. 

Saya, mama yang sedang sekolah di sekolah kepribadian nomor satu di dunia. Berharap nanti ketika anak saya sudah berganti peran menjadi teman saya, saya sudah menjadi pribadi yang lebih tenang dan bijaksana. 

Dan saya, mama yang sedang sangat menikmati masa-masa pengasuhan ini. 

Port Moresby, 28 September 2017.

2 thoughts on “Anak adalah Sekolah Kepribadian Nomor Satu di Dunia

  1. Suaminya dimana bu? saya mau tanya-tanya hehehe….
    Seiring berjalannya waktu dan pengalaman, insyaallah bisa lebih santai dalam mengasuh anak. Saya dulu pas anak pertama juga gitu, sering panik, gemes, emosi.
    Sekarang anak ketiga saya merasa lebih santai, karena belajar dari pengasuhan kedua kakaknya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s