Sebuah Doa

Kugenggam erat peluh yang telah berubah menjadi rindu.

Berat, menggugat.
Melumpuhkan raga.
Mengaburkan logika.

Kurekahkan tangan, melepaskan.
Sebelum tingkah ini menjadi semakin acak.

Membiarkan bulir-bulir itu berpendar seperti embun,
menari-nari lincah di udara; terus, dan terus.

Sampai ketika perlahan-lahan mereka terangkat menuju nirwana,
saat mulut berbisik, “sabar, sebentar lagi.”

Palembang, 17 Januari 2016.

——

~~ “Allahumma yassir wala tu’assir. Rabbi tammim bilkhoir. Birohmatikaya Arhamarrohimin.”
~~ “Ya Allah permudahkanlah. Jangan persulitkan. Dan Kau akhirkanlah dengan kebaikan.”

Amin YRA.

One Comment Add yours

  1. Cie ada yang ingin menikah😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s