Retrouvailles

Jemariku mengetik keyboard dengan lembut di saat neuron otakku merangkai kata. Duduk aku di sini, mencoba berdamai dengan aksara. Aku heran karena biasanya aku berjalan beriringan dengan mereka. Tapi ternyata ketika tentangmu, banyak hal yang tak masuk dalam logika.

September.
Masih terekam jelas irama suaramu menyampaikan sukacita akan datangnya bulan ini. Bulan yang penuh cinta, begitu katamu, tujuh belas hari yang lalu.

Sejak itu aku bertekad, aku akan menulis sesuatu untukmu. Sesuatu yang akan kurangkai dengan sangat indah, dengan kata-kata pujangga.

Lalu kuhabiskan waktu untuk berpikir, mengenai apa yang akan kutulis, cerita apa, bagaimana, filosofi apa, kapan, dan berbagai episode-episode yang kureka sendiri menari-nari dalam benakku. Perlahan-lahan kubebaskan jemariku berkreasi, membentuk tulisan panjang.

Aku menghela nafas.

Tak mudah. Karena ketika kubaca kembali, aku merasa mereka sangat membosankan. Begitu terjadi berulang kali, selama berhari-hari, dimulai dari hari pertama aku bertekad.

Nalarku lumpuh. Aku merasa sedih. Aku menilai diriku terlalu tinggi. Ternyata aku tak sejenius Andrea Hirata dalam berkata-kata.

Mengapa aku terdiam? Seperti terjebak dalam suaraku sendiri. Lama aku menyadari, aku harus kembali menulis menggunakan hati. Bukan untuk menunjukkan seberapa piawai aku dalam berpuisi, bukan untuk menunjukkan seberapa berbakat aku dalam berbahasa. Bukan.

Hanya menulis, menulis, dan menulis. Tak hanya dengan akalku, namun juga jiwaku. Menuliskan pengharapan tapi bukan ambisi, menuliskan keyakinan tapi sekaligus memuat sedikit ruang keragu-raguan.

Kini aku kembali, duduk disini, masih mencoba berdamai dengan aksara.

Kuketik perlahan.

Palembang, 17 September 2015

Nama kota dan tanggal hari ini, persis ketika aku sedang menulis surat. Kali ini anggap saja, aku sedang menulis surat untukmu.

Hai Kamu,
Apa kabar? Besok hari ulang tahunmu lho. Besok yang waktunya tinggal beberapa jam lagi. Masih ingatkah kamu tentang satuan waktu? [Tahun. Bulan. Hari. Jam. Menit. Detik]. Satuan yang saat ini kita habiskan bersama. Yang kita berharap berlalu dengan segera, namun di sudut-sudut malam terkadang ia berjalan dengan sangat perlahan.

Aku masih ingat awal perkenalan kita dulu. Kira-kira sekitar enam tahun yang lalu. Waktu itu, waktu dimana kita masih saling mengagumi dalam diam. Berkata-kata singkat melalui pesan di dunia maya.

Bisa kamu bayangkan betapa senangnya aku sewaktu kamu pertama kali memberanikan diri menelponku. Bercerita tentang banyak hal. Tentang siapa kamu, darimana kamu berasal, sampai pada akhirnya cerita tentang mimpi-mimpi indahmu untuk menaklukan dunia.

Aku ingat semua kata-katamu waktu itu. Semua seperti terekam otomatis dalam ingatan jangka panjang di memori otakku. Kuharap kamu masih ingat juga disaat kamu bilang mau jadi gubernur, dan artis tenar itu sebagai wakilmu. Karena sekarang setelah enam tahun berlalu, artis itu sudah mencalonkan diri jadi gubernur. Haha

Kita memang sama-sama pemimpi. Dan aku suka kenyataan ini. Karena pada akhirnya aku berkesimpulan, hanya pemimpilah yang pada akhirnya mampu berlari bersama dengan seorang pemimpi!

Lalu setelah kedekatan kita waktu itu, kita menjauh. Tapi tak pernah benar-benar jauh. Selalu ada masa diantaranya kita tetap saling bercerita. Singkat-singkat, namun sarat makna.

Aku menemukan sesuatu yang tak sembarang kutemukan pada orang lain dalam dirimu. Kita seperti sudah bersahabat sejak lama, seperti terkoneksi jauh sebelum dipertemukan. Sampai suatu ketika, kita memang benar-benar terkoneksi lagi.

Screen Shot 2015-09-17 at 11.29.34 PM

Ini hanyalah perkara jarak dan waktu, dan aku bersyukur karena kita diminta untuk mengenal mereka terlebih dahulu, sebelum akhirnya bertemu. Jarak yang membuat kita mampu merasakan manisnya rindu, dan waktu yang membuat kita belajar bersabar dalam menunggu.

Kepada dirimu, terima kasih telah mempertemukan kita kembali dengan rasa syukur.

Selesai.

Tulisanku yang singkat. Bagus atau jelek, aku tak peduli. Kulirik arlojiku, sudah 23:59. Aku hanya perlu mengulur beberapa detik…dan (aku mengetik ini dengan perlahan)…

“SELAMAT ULANG TAHUN, Retrouvaille-ku”.

Palembang, 18 September 2015

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. NinaFajriah says:

    Semoga yang ulang tahun baca ya mbak. Dalem banget kata-katanya 😉

    Like

    1. Emeldah says:

      Hehe iya mbak nina, baca koq.. makasih yaaa.. jadi malu saya :)))

      Like

      1. NinaFajriah says:

        Waaaa tulisannya bagus banget kog mbak jangan malu hoho 😳

        Like

  2. Nada says:

    Ini yang ditulis di kelas waktu itu? Full of love banget..

    Like

    1. Emeldah says:

      Yang ditulis di kelas waktu itu beda lagi. Ini ditulis tanggal 17-18 september, jd ga di kelas hehe thanks for reading btw

      Like

  3. winnymarlina says:

    orang palembang juga yah kka

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s