Menulis

Sumber: thesaleslion(dot)com
Sumber: thesaleslion(dot)com

Kalau ada yang bertanya sama saya, apa hobi kamu? Biasanya saya akan menjawab, menulis. Saya bukan penulis. Bukan. Belum pernah nerbitin buku. Pengen nerbitin buku sih sering, tapi selalu terbentur ga pede sama tulisan sendiri. Mampunya cuma di sini nih, di blog. Aku mah apa atuh…

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, media menulis saya makin banyak. Dulu sewaktu kecil cuma buku diary yang jadi tempat saya nulis. Sekarang? Saya punya blog, website pengembangan karir di kampus, website konseling online yang saya dan teman-teman kelola, dan jadi salah satu kontributor website traveling.

Makin banyak media tempat saya nulis dan mempublikasikan tulisan ternyata membuat blog saya pribadi menjadi cukup terbengkalai. Saya sekarang jarang banget blogging dan blog walking. Padahal beberapa tahun yang lalu aktivitas ini jadi salah satu aktivitas terapi saya lho. Saya suka nulis, berbagi ide, sekaligus membaca ide-ide orang via blog mereka.

Sebenarnya saya cukup menyayangkan kalau aktivitas blogging ini makin ditinggalkan. Sekarang masyarakat lebih suka berbagi informasi lewat media sosial yang lebih singkat, pendek, dan langsung ke intinya. Ada sisi positifnya sih, informasi jadi lebih cepat menyebar, ide lebih cepat tersalur. Sisi lainnya, orang jadi males buat nulis panjang lebar. Ide jadi di-diskon, kurang mendalam, permukaan aja. Akibatnya, sering salah intepretasi buat yang baca.

Akhir-akhir ini saya mulai melakukan pembiasaan baru dalam kehidupan saya. Saya mulai kembali baca-baca blog dan artikel. Saya mulai sering lagi baca buku dan mencoba membacanya sampai selesai. Entah berkolerasi atau engga, kebiasaan blogging yang saya tinggalkan dan beralih ke sosial media yang lebih singkat, ternyata membuat saya jadi malas untuk ‘telaten’ baca buku. Jadi kerjaan saya cuma scrolling-scrolling-scrolling di sosmed.

Imbasnya? Banjir ide. Banjir persepsi. Dan sayangnya, buat saya pribadi, banjir prasangka juga. Saya jadi suka mikir yang engga-engga. Pikiran saya ngelantur jauh ke depan (atau malah balik ke belakang). Saya juga sering membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang. Dan sialnya, merasa hidup orang lebih menarik daripada hidup saya. Feel the same? Kamu ga sendirian.

Terus ketika saya coba mikirin korelasinya, saya jadi inget salah satu ide dasar “mindfulness” yang jadi judul bukunya Mas Adjie Silarus: Sadar Penuh Hadir Utuh. Beliau sering banget bilang kalau lagi nge-tweet ya nge-tweet aja, kalau lagi buka path ya buka path aja, tapi dengan kesadaran penuh.

sumber: adjiesilarus(dot)com
Sumber: adjiesilarus(dot)com

Kalau saya ga salah persepsi ya, kesadaran penuh itu sama dengan ‘mengkencani diri sendiri’. Kita jadi tahu apa yang dirasain, dipikirin, jadi pada akhirnya punya rambu-rambu buat diri kita sendiri. Punya alarm tentang apapun. Termasuk alarm ketika main media sosial buat ga ‘kehilangan kesadaran’, ga cuma scrolling-scrolling-scrolling ga jelas, terus buat ga ngelantur mikir ke depan belakang. Karena sebenarnya hidup itu ada di sini, saat ini.

Saya percaya, proses diam dan refleksi itu baik untuk jiwa. Percaya banget. Saya juga percaya segala sesuatu yang dilakukan dengan fokus, satu waktu satu kegiatan itu juga bagus banget. Sama kayak waktu buat nulis. Bagi saya, nulis itu…proses diam, proses refleksi, dan proses berfokus. Yuk, nulis lagi!

One Comment Add yours

  1. nina says:

    Sukaaaa tulisan ini (^_^) aku juga mbak skrg jarang baca buku gara gara sering baca Internet. Mbak bener nih kayagnya harus melirik buku lagi biar dapet bacaan yg lebih ‘dalem’.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s