Focus!

Anak-anak masa kini tumbuh dalam realitas baru, realitas ketika mereka lebih cocok dengan mesin ketimbang manusia, dibandingan dengan apa yang terjadi dalam sejarah manusia. Hal itu menggelisahkan karena sejumlah alasan. Salah satunya, sirkuit sosial dan emosional otak anak belajar melalui kontak dan percakapan dengan setiap orang yang dijumpainya setiap hari. Interaksi itu membantu pembentukan sirkuit otak; semakin sedikit jam yang dihabiskan bersama orang — dan semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk melihat layar digital — mengindikasikan difensiasi di bidang itu. [disadur dari buku “Focus” oleh Daniel Goleman (Terj. Agnes Cynthia), terbitan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2015].

[Today’s children are growing up in the new reality, one where they are attuning more to machines and less to people that has ever been true in human history. That’s troubling for several reasons. For one, the social and emotional circuitry of a child’s brain learns from contact and conversation with everyone it encounters over the course of a day. These interactions mold brain circuitry; the fewer hours spent with people — and the more spent staring at a digitalized screen — portends deficits.]

Banyak hal yang saya syukuri ketika saya tersadar bahwa saya adalah anak generasi 90an. Ketika saya kecil, saya ga kenal dengan apa yang namanya internet. Saya punya masa kecil yang menurut saya, hidup di dunia nyata. Saya main lari-lari, saya main petak umpet, saya berantem sama temen, ngoleksi pin up dan poster, dan sebagainya.

Hal yang jarang banget dimiliki oleh anak kecil jaman sekarang, kecuali mereka yang masih tinggal di pedesaan, atau anak kota yang orangtuanya peduli sama hal semacam ini. Peduli terhadap apa? Peduli terhadap kenyataan bahwa “anak-anak lebih membutuhkan kontak dengan manusia, ketimbang mesin”.

Saya ga akan bicara panjang lebar di sini tentang ini. Yang pertama, saya lagi ga punya waktu buat blogging lama-lama karena kerjaan yang lain yang menuntut untuk diproritaskan. Yang kedua, saya ngerasa bahwa satu paragraf yang saya tulis di atas udah bisa ngewakilin ide yang ingin saya tuliskan saat ini — untuk sementara waktu.

Intinya, saat ini saya lagi baca buku Focus ini. Saya belum bisa kasih review panjang, karena belum selesai dibaca juga. Tapi di halaman-halaman pertama, saya merasa buku ini cerdas. Bahasanya ringan, ilmiahnya dapet. Focus! Sangat direkomendasikan banget buat yang suka bacaan-bacaan psikologi.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. yup!!! life is much easier when blackberry and apple is just a fruit and the only tweeting we heard is from a bird, lol

    Like

    1. emeldahs says:

      hehehe banget… Tapi ada positif nya juga sih sosmed yang banyak2 itu,, meskipun tetap harus seimbang dan fokus pada akhirnya. Btw, thanks buat mampir ya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s