HaSF!

Sebenarnya banyak banget yang pengen diceritain di sini. Kenapa?

Yang pertama, saya udah lama banget ga nulis. Kedua, saya punya ide yang banyak tapi terpenggal-penggal. Ketiga, karna idenya banyak, saya selalu bingung mau nulis apa. Terus, pada akhirnya malah terbengkalai..

Ok, saya coba nulis dulu aja ya yang di otak tanpa mikir panjang ngarang kata-kata.. Daripada ga jadi lagi, hehehe

image

Tulisan ini saya ketik ketika berada dalam pesawat perjalanan dari Jogja menuju Palembang.  InsyaAllah kalau lancar, hanya 1 jam 20 menit sudah sampai tujuan. Tapi sekarang baru sekitar 25 menit saya berada di dalam pesawat.

Berita yang terjadi akhir-akhir ini menyebabkan saya kurang bisa tidur –kalau ga capek banget– di dalam pesawat. Iya, saya sedikit takut. Jadi daripada nunggu ga jelas (secara saya ga bawa buku yang menarik untuk dibaca), saya nulis aja.

Sedih rasanya mengingat kita kurang memiliki rasa aman untuk alat transportasi kita sendiri ya? Dan sekaligus takjub karena sebenarnya hal-hal gini sebagai pengingat, betapa kecilnya diri kita.

Alhamdulillah cuaca di luar cukup cerah, walau daritadi pesawat lumayan goyang karna kena awan-awan kecil, tapi sinar matahari masih keliatan jelas.

Saya jadi inget peristiwa trauma yang pernah saya alami sekitar tahun 2006-2009. Singkat cerita dulu saya punya pengalaman ga menyenangkan sehubungan dengan naik pesawat, dan itu menyebabkan saya ketakutan setiap kali mau terbang.  Saya hampir dipastikan mengalami gangguan tidur sekitar 3-4 hari sebelum berangkat, dan merasa hari H saya terbang bisa jadi adalah hari terakhir saya. Jantung saya juga selalu berdegub sangat kencang pada saat take-off, landing, dan pada saat pesawat bergoyang kecil melewati awan. Sebegitu takutnya.

Sampai suatu hari tahun 2009, saya ikut pelatihan psikologi gitu. Intinya, pada saat pelatihan, saya diberi semacam terapi kognitif. Untuk lebih berpikir hal-hal yang baik daripada yang buruknya, untuk lebih membayangkan hal-hal yang baik yang akan terjadi pada diri saya.

Daripada saya membayangkan adegan pesawat yang terjatuh, dan berbagai macam adegan drama setelahnya; saya diminta untuk diminta membayangkan adegan pesawat yang mendarat dengan sempurna. Saya sampai ke lokasi yang saya tuju dengan selamat, dan kemudian kembali berbuat hal-hal yang baik dalam kehidupan saya.

Saya mencobakan sesi tersebut. Hasilnya? Saya menjadi jauh lebih tenang. Saya kemudian  mempraktikan hal tersebut ketika saya dalam perjalanan lagi, dan hasilnya alhamdulillah saya menjadi lebih tenang. Bisa dikatakan, berbagai simptom yang saya alami sebelumnya menurun drastis. Saya mampu untuk tidur nyenyak sebelum berangkat dan ketika berada di dalam pesawat. Saya bahkan pernah tertidur pada saat take-off dan terbangun pas pada saat landing.

Jadi, sebenarnya, meskipun pada saat ini saya menyadari bahwa rasa takut itu masih ada dalam diri saya, rasanya sudah jauh berkurang. Terbukti sekarang meskipun saya sedikir takut, pesawat agak goyang-goyang sedikit, ga bisa (atau ga mau) tidur; detak jantung saya cukup tenang. Saya juga sudah menghabiskan waktu sekitar 25 menit untuk mengetik dan mengedit tulisan saya ini dengan lancar.

Alhamdulillah…

Tulisan saya ini saya buat untuk berbagi pengalaman bersama sahabat sekalian. Andaikata punya pengalaman yang serupa, mungkin bisa diterapkan. Bukan cuma soal takut terbang, tapi juga takut hal-hal yang lain. Karna pada akhirnya saya merasa, ketakutan itu terjadi karena kita lebih sering mikir, membayangkan dan mungkin percaya bahwa hal-hal buruk akan menimpa kita. Kita lebih suka mikir kalau akan celaka dibandingkan selamat, kita lebih suka mikir akan gagal, daripada berhasil dan sebagainya.

Di sisi lain, saya sebenarnya percaya akan teori keseimbangan. Bahwa ketakutan itu sebenarnya ga selamanya buruk, ada sisi baik yang ia bawa. Bisa jadi dengan adanya rasa takut kita lebih well prepare dan hati-hati. Lebih sering beribadah juga.

Tapi buat case naik pesawat, menurut saya ini agak beda operasionalnya.  Saya tetap mengakui adanya rasa takut dalam diri saya, dan mensyukuri adanya rasa itu. Artinya saya masih merasa ‘kecil’ di hadapan Pencipta. Tapi karena ketika menjadi penumpang itu powerless, hal yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri yang terbaik dan berpasrah.

Persiapan diri yang sudah saya lakukan antara lain berdoa, memilih maskapai yang trackrecord-nya baik, memilih jadwal perjalanan pagi yang notabene cuacanya lebih cerah, dan meminta doa juga dari orang-orang terdekat saya.

Selain itu, saya juga merasa berpikiran yang baik-baik dan berbaik sangka dengan Sang Pencipta juga merupakan suatu bentuk persiapan diri. Jadi, daripada mikir yang engga-engga, kita mikir yang iya-iya aja yah..  Kan ada Allah yang jagain. Have a safe flight! 😉

One Comment Add yours

  1. nana says:

    sama juga sama aku suka rada takut pas udah terbang. karena nyawanya udah diserahin sama pilot. kalo masih takut ya berdoa aja, paling nggak kalo ada apa-apa sebelum hilang nyawa kita masih sempet doa.hehehehe

    oia, kallo masih suka parno, coba nonton ulang film final destination aja :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s