Buku Kipas

Akhirnya tersentuh juga blog ini.. Sudah terlalu banyak ide yang berseliweran di kepala saya, dan terlalu banyak pula ide-ide tersebut yang melayang entah kemana karna ga diikat atau ditumpahkan. Entah dari kapan udah pengen banget nulis, tapi tapi tapi tapinya lebih banyak ya ternyata… Manusia… Selalu punya berbagai macam alasan buat defensif ya…

Anyway yang penting malem ini saya kembali ngeblog ya.. šŸ˜€ Kali ini saya ingin memenuhi janji saya dengan seorang sahabat. Jadi kurang lebih sebulan lalu saya nerima paket dari temen saya di Jogja. Isinya, buku.

Seneng? Seneng donk. Seneng banget malah. Secara selain sama makanan enak, saya suka banget sama buku.

139

140

Judul Buku: KIPAS – Kisah Insiratif Anak Panti Asuhan
Penulis: Anak-anak panti asuhan yang difasilitasi oleh Senyum Community (SC)
Penerbit: Digibooks
Jumlah halaman: 237 halaman
Harga: –
ISBN: 9786021443101

Tapi buku yang dikirim kali ini beda. Kenapa beda? Karna buku ini ditulis oleh penulis-penulis spesial dan dengan cara yang spesial juga. Kenapa saya bilang spesial? Karna penulis-penulisnya adalah anak-anak maupun remaja panti asuhan yang difasilitasi oleh Senyum Community (SC) melalui suatu program yang bernama SeMANGAT menulis. Ā (PS: Buat yang pengen tau tentang SC bisa buka facebook page nya, atau baca liputannya di sini)

Hal yang bikin spesial lainnya adalah cara penulisannya. Jangan harap bisa mendapatkan cerita dengan alur cerita yang sangat tertata. Di sini, semua cerita ditulis benar-benar apa adanya. Alurnya? Maju mundur, ke depan, belakang. Benar-benar seperti cerita yang keluar tanpa disaring dari benak anak-anak itu. Jujur. Apa adanya banget.

Baca buku ini membuat saya suka terhanyut dengan cerita mereka. Antara geli, lucu, sedih, optimis, miris, bercampur. Bikin saya kangen Jogja dan budaya disana juga, karena buku ini juga “Jogja banget” menurut saya. Jargonnya percakapan dan bahasanya. Penggambarkan deskripsi lokasinya. Adat yang dipaparkan. Ah, selalu ada beribu alasan ya buat selalu merindukan Yogyakarta…

Isi buku ini beragam. Tentang kisah hidup anak-anak tersebut. Namun ada satu benang merahnya, impian. Dengan segala keterbatasan, impianlah yang membuat hidup mereka lebih berwarna. Impianlah yang membuat mereka tetap berani menatap maju ke depan. Dan yang membuat haru, di beberapa cerita, ada bagian dimana mereka sudah selangkah lebih dekat dengan mimpinya. Seorang anak yang pernah tidak naik kelas, namun berhasil juara lomba matematika satu kecamatan pada akhirnya. Seorang anak yang selama ini tinggal di panti, namun bisa duduk di bangku kuliah. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Membaca buku ini juga membuat saya melayang bersama impian-impian mereka. Saya bahkan terkadang tanpa sadar ikut mengaminkan, walau belum tau pasti seperti apa yang sebenarnya mereka bayangkan. Imajinasi masa depan bagaimana yang tergambar dalam pikiran mereka. Saya tidak tau. Semoga kalimat, “Amin. Amin. Allahuma Amin.” bisa mewakili saya ikut berdoa bersama mimpi-mimpi itu.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. mahendra says:

    “Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan.. Usaha keras itu tak akan mengkhianati…” (Shonichi, JKT48)

    Setuju dud.. Satu kata sakti mandraguna. Impian. Hidup tanpa bermimpi itu sama aja tanpa berjuang.
    šŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s