Hening

Kesendirian merupakan hal yang menyenangkan untuk sekarang.  Setidaknya begitu menyenangkan ketika kau mengetahui bahwa tidak ada yang banyak tahu tentang hidupmu; tidak ada yang banyak bertanya tentang apa yang akan kau lakukan; apa yang sedang kau lakukan; dan apa yang telah kau lakukan.  Tidak banyak yang tahu.

Prasangka buruk berkata: “terkadang mereka hanya ingin tahu, bukan peduli.” Atau mungkin, diri yang terlalu berpikir buruk tentang orang-orang. Tapi yang pasti, sekarang aku mulai kembali suka dengan kesendirian.

2012-07-26-silence-is-the-language-of-god (1)

 

Kesedirian. Sesuatu hal yang pernah akrab denganku.

Kurang lebih lima belas tahun yang lalu. Ketika itu diri ini banyak menghabiskan waktu di rumah. Banyak berdiam, membaca, dan mengamati. Diam, melihat, berpikir.

Kebiasaan yang perlahan membentukku. Tanpa disadari sampai beranjak dewasa, bahwa sebenarnya ada sisi bagian itu yang melekat di dalam diri. Sisi yang beberapa saat sempat hilang dari kehidupanku.

Sisi itu mulai memudar ketika diri ini beranjak remaja, ketika mulai mengenal persahabatan, pertemanan, popularitas, pengakuan, dan sebaginya. Diri menjadi haus akan suatu keramaian. Perasaan menggebu, bergairah, menyenangkan.

Tapi hidup bukan hanya tentang hal yang kau sukai. Suatu ketika, lagi-lagi terjadi kejadian yang kembali memaksa untuk kembali berdiam. Kembali bersahabat dengan hening. Mungkin untuk berpikir, atau malah untuk masuk, menyapa, dan mendengar bagian dari diri yang lain.

Bahwa ada Aku Aku kecil yang selama ini terabaikan.

Aku Aku yang ingin disapa, disentuh, dan dihargai keberadaannya. Dan untuk melakukannya, tidak dapat berada dalam keramaian. Terlalu ribut, terlalu berisik. Aku perlu melakukannya sendirian.

Langkah pertama. Menyendiri, kemudian diam. Setelah cukup hening, kusapa mereka. Mulai berbicara dengan mereka. Mulai kembali membangun kepercayaan mereka. Merengkuh dan memeluk mereka. Aku kembali bersahabat dengan Aku Aku yang lain.

Dalam perjalanannya, diri ini juga mulai kembali membangun persahabatan dengan alam. Hal-hal kecil yang selama ini jarang terdeteksi keberadaanya. Menyadari dengan lembut setiap nikmat helaan nafas; setiap sentuhan kasih sayang dari angin, air, udara, partikel, dzat..

Aku juga mulai kembali bersahabat dengan buku. Dan ternyata itu sangat menyenangkan. Kembali tenggelam dalam cerita dan imaji, kembali bercakap dalam kata-kata yang tak terdengar.

Di sela sibukku, diri ini mulai membiasakan diri untuk berhenti sejenak dan beristirahat. Untuk merenung; untuk berpikir; untuk membaca; untuk menulis.

Hal-hal yang telah terjadi benar-benar membuatku merasa bahwa manusia memanglah makhluk yang tidak berdaya. Bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang sebenarnya selalu berperan di dalam setiap sendi kehidupan.

Dan pada satu titik ketika tidak tahu kemana lagi harus melangkah; ketika tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat; aku tahu bahwa diriku hanyalah harus menyerah kepada Kekuatan Itu.

Kepada kekuatan Yang Maha Besar. Kepada kekuatan Yang Maha Tahu. Dan kepada Kekuatan Yang Maha Melindungi, Menemani, Membimbing, Mengenggam Tangan, kemana pun diri ini pergi.

Lalu aku kembali melanjutkan hidup. Terkadang beramai-ramai dengan orang-orang di sekeliling, tapi tak masalah jika memang harus sendiri dulu. Semuanya menyenangkan.

Karena Dia telah berpesan, untuk tidak takut lagi dengan kesendirian; karena manusia memang tidak pernah benar-benar sendiri. Untuk tidak risau lagi akan hening; karena lebih baik diam, jikalau memang sedang tidak mampu berkata-kata baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s