Sosial Media dan Kepribadiannya

Dari judulnya, keliatan banget kalau topik yang akan saya tulis ini berkaitan dengan dua hal yang saya minati, sosial media dan psikologi.

Berawal dari kemarin saya kegirangan banget karena nemu mainan baru yang bernama “Bubbly”. Apa itu Bubbly? Jadi Bubbly itu adalah sejenis sosial media untuk suara kita. Cara kerjanya mirip twitter dan instagram, tapi khusus buat suara. Sesuai dengan tagline-nya Bubbly “Bubbly is like twitter and instagram for your voice”.

Sebelumnya saya juga dikenalkan dengan Keek oleh sahabat saya. Keek ini ya sejenis sosial media juga, khusus buat video singkat kita. Bedanya sama You Tube mungkin durasi yang pendek dan kualitas video yang biasa aja. Kalau You Tube kan emang buat sharing video yang durasinya bisa sampe berapa jam, dan pake kualitas HD lagi. Kalo Keek ini emang diperuntukkan “hanya” buat kita berbagi kegiatan-kegiatan kita sehari-hari.

Kalau dirunut lagi ke belakang, berbagai jenis sosial media udah dibuat sama orang. Bagai pake hukum alam, ada yang bertahan, ada yang mati suri, ada juga yang bener-bener udah wasalam. Dan kalo pada saat ini, sampai detik ini sih ya, menurut saya beberapa sosial media populer masih bertahan bahkan makin mengepakkan sayap. Sebut saja facebook, twitter, linkedin, instagram, foursquare, pinterest, keek, path, dan lain-lain.

Sebenernya, kalau kita udah punya facebook, buat apa lagi sih yang lain? Toh dengan facebook kita udah bisa ngoceh-ngoceh tentang pikiran kita di kolom status, posting foto atau video, check-in lokasi, dan sebagainya. Ternyata saya menemukan kesimpulan bahwa ternyata setiap sosial media itu diciptakan dengan membawa “kepribadian” masing-masing.

Sebut saja twitter. Bagi saya pribadi, twitter ini media yang tepat buat berbagi informasi-informasi singkat, plus media yang tepat buat “nyampah”. Gerak linimasa atau timeline di twitter begitu cepat. Kalaupun kita ngoceh-ngoceh, mudah-mudahan ga akan terlalu menganggu pengguna lain. Kalaupun pengen berbagi informasi dengan kultwit, orang yang merasa tertarik bisa buka timeline kita secara pribadi, meskipun karena cepatnya arus di linimasa, ada baiknya untuk informasi-informasi yang dirasa bermanfaat, bisa ditulis atau dirangkum di blog setelahnya.

Hal yang sama dengan instagram. Instagram itu tempat berbagi foto dan video. Keek itu tempat berbagi video. Foursquare itu tempat check-in. Blog itu tempat nulis artikel, buah pikiran, cerpen, puisi, dan sebagainya. Facebook itu tempat jualan. *bcanda. No heart feeling lho yaaa… 🙂 Facebook itu tempat bertemu teman-teman lama juga sih, biar tetep bisa keep contact.

Lalu path itu tempat apa?

Nah, ini yang masih bikin saya bingung. Jujur, saya merasa sosial media yang satu ini punya love-hate relationship sama saya. Saya pengguna path, pather kata orang-orang. Saya suka sama sosial media satu ini. Fitur-fiturnya, ada I’m listening/Watching/Reading, ada buat share foto/video, ada buat check-in lokasi, bahkan ada fitur yang ngasih tau kapan kita bobok dan bangun tidur. One stop shopping deh kalau istilahnya mall. Tapi ternyata, ga jarang juga saya terganggu ketika menggunakan path. Kadar terganggu itu ternyata cukup kerasa sampe saya ga sadar suka “ngebatin” liat kelakuan pengguna path.

Jujur, saya merasa cukup terganggu ketika ada orang yang narsis banget sampe ketika saya scroll ke bawah, isinya muka dia semua. Saya terganggu dengan orang yang “nyampah” di path kayak lagi nyampah di twitter. Saya terganggu dengan bla bla bla bla…

Saya tau ketika saya terganggu, pribadi yang wajib untuk saya ‘kritik’ terlebih dahulu adalah diri saya pribadi. Saya mencoba berproses di sini, apalagi ketika mulai ngebatin yang engga-engga tentang “teman-teman” saya.

Intinya sih, saya pengen bilang, sosial media itu rentan dan riskan banget buat bikin orang berpikiran macem-macem. Banyak hal yang mempengaruhi proses interaksi kita satu sama lain, dan sosial media adalah salah satunya. Alangkah baiknya ketika kita posting sesuatu hal, postinglah pada tempatnya. Pengen nyampah, ya pake aja twitter. Pengen foto-foto narsis lebih dari tiga foto dalam sekali waktu, pake instagram. Dan sebagainya dan sebagainya.

Tingkatin juga alarm diri kita kenapa kita mem-posting itu, benar-benar berbagi kebahagiaan, pencitraan, atau pamerkah? Saya ga bilang pencitraan dan pamer itu ga boleh.. Engga… Pencitraan is my middle name. Semua manusia dalam teori psikologi itu punya “persona” kalau katanya Om Jung. Mengutip kata-kata temen saya, ketika saya nulis ini pun it contains a little bit pencitraan. :p Pamer juga boleh koq, asal ga berlebihan. Pengen nunjukkin kalau kita berhasil mencapai suatu ‘pencapaian’? Why not? Itu namanya menghargai diri dengan memberi reward buat diri sendiri.

Tapi ya itu, balik lagi, awareness. Kesadaran. Jangan sampai porsinya berlebihan dan sampai menganggu orang lain. Menurut saya pribadi, ga bijak rasanya kalau kita bilang: ga suka ya tinggal unfollow/unshared. Kita hidup dalam dunia sosial. Selalu ada dua sisi. Baik buruk. Suka ga suka. Bukan cuma suara yang menyenangkan aja yang perlu kita dengar, tapi suara ‘kritikan’ itu juga punya hak buat didengar. Makanya ada baiknya kalau sosial media itu menyediakan dua opsi buat penggunanya, like or dislike.

Ada satu hal yang menggelitik ketika seorang sahabat saya berkata, “sekarang ini, sering kali kritik itu dianggap judgement, nge-judge dianggap haters, dan haters itu dianggap fans yang tersembunyi..” Padahal kalau kita mau mikir jernih, mungkin orang yang berani mengkritik itulah orang yang sayang sama kita, yang berani jujur sama kita, yang mendewasakan kita. Tapi ya itu, terkadang kita cuma ga suka aja.

“Only your real friends tell you when your face is dirty.” – Sicilian Proverb

2 Comments Add yours

  1. kun says:

    yg bener no hard feeling dud 🙂 kritik ini bukan berarti aku haters lho yaa hehehe…

    Like

    1. emeldah says:

      someone said in UK, it’s “no heart feeling” mbak… But thanks for the correction… Ga koq, bukan haters koq… cuma fans tersembunyiiii :p

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s