Lima, Bagian Kedua

“Manusia bukanlah raga yang dilengkapi dengan jiwa, melainkan jiwa yang dilengkapi dengan raga.” – unknown

Kutatap matanya, tajam.

Badanku bergetar, nafasku naik turun.

Tangannya menggenggam erat tanganku. Jarak tubuhnya hanya beberapa millimeter dari tubuhku. Bau itu, bau khas yang selama ini tersimpan mengendap dalam memoriku. Punggungku menempel keras di dinding, mencoba mencari perlindungan di sana.

“Maaf…” lirihnya.

Air mataku menetes.

Aku hanya terdiam. Membeku.

—-

Apa rasanya merindukan orang yang sama setiap hari? Ketika rindu itu semakin lama hanya bisa dipendam, bersemanyam dalam sunyi. Rindu yang hanya bisa dibagikan kepada sepi melalui jeritan hati yang sebetulnya begitu memekakkan, namun hanya bisa terdengar oleh naluri.

Aku merasakan hal itu.

Dalam diamku, tertawaku, tangisanku, tatapan kosong mataku, aku merindukan dia.

Dia, Limaku.

Kembali akan kuceritakan padamu tentangnya.

Perkenalan itu bermula ketika kami duduk bersebelahan dalam sebuah ruang kelas.

“Naik apa kesini?” Tiba-tiba suara asing dari kursi sebelah menanyaiku.

“Heh?” Aku mengerenyit. Ini pertemuan pertama kursus bahasa inggris kami. Orang yang aneh, bukan mengajak kenalan malah nanya aku naik apa kesini.

“Naek sepeda,” jawabku. “Kenapa?”

“Itu pake wristband”, katanya sambil melirik ke arah pergelangan tanganku lalu melirik ke arah kakiku, “sama sepatunya juga.”

“Kamu orangnya kepo ya?” Jawabku sekenanya.

“Apa itu?” Tanyanya

Knowing every particular object.” Jawabku. Entah dia mengerti maksudku atau tidak.

“Wuih belum mulai kelasnya udah cas cis cus aja English-nya,” ledeknya sambil tertawa.

Kejadian itu terjadi sekitar sepuluh tahun lalu, ketika aku baru saja lulus SMA. Sejak itu kami mulai sering menghabiskan waktu bersama.

Kami sama-sama suka olahraga. Basket, sepeda, bulu tangkis, ataupun jogging bareng di minggu pagi. Dia akan menjemputku selepas subuh. Setelah berolahraga dan mendapat cukup banyak keringat, kami melanjutkan ritual dengan sarapan bersama. Mie ayam, nasi uduk, bubur ayam, atau sekedar susu kedelai hangat menjadi menu favorit kami.

Di saat-saat itu kebersamaan kami terjalin. Aku mengenalnya, dia mengenalku. Atas nama persahabatan, kami pun menjadi akrab satu dengan yang lain. Menceritakan hal-hal yang simple, unik, maupun kegiatan-kegiatan yang menurut orang lain mungkin tidak penting.

Hanya bersama dirinya aku merasa nyaman bercerita apapun. Bahkan hal-hal yang menurutku memalukan, yang tidak berani kuceritakan kepada orangtuaku sendiri. Begitu pula ia, bercerita apa saja. Sampai pada akhirnya cinta pun tumbuh diantara kami. Tapi kami terlalu pengecut untuk melewati batas persahabatan itu. Kami merasa nyaman dengan label “persahabatan” yang kami ciptakan sendiri, dan merasa tidak perlu untuk ikrar hal yang lainnya.

Aku menyayangimu, kau menyayangiku. Kita sama-sama tahu. Itu sudah lebih dari cukup. Sampai pada akhirnya untuk suatu alasan yang menurutku prinsipil, aku pergi menjauh darinya.

—-

Semua bermula dari kembalinya aku ke kota ini. Kota kami. Dua tahun lebih aku merantau ke pulau seberang, berharap akan membantu prosesku untuk melupakannya. Setidaknya aku tak harus tersiksa lagi karena setiap sudut kota memanggil memori tentangnya, pikirku dulu.

Aku benar. Setidaknya untuk sementara waktu. Suasana baru, pekerjaan baru, peran baru, teman-teman baru, semua membantuku untuk tak teringat padanya lagi.

Setidaknya untuk sementara waktu. Tapi, sementara berarti bukan selamanya, kan?

Dan inilah aku, terpaksa kembali. Ke kota kami. Ayah sakit, ibu tak ada teman untuk bergantian menjaga beliau.

“Pulanglah Nak,” pinta ibu beberapa hari lalu. Entah untuk keberapa kali pula beliau memintaku untuk pulang.

Sebelumnya aku selalu punya alasan untuk menghindar. Pekerjaanlah. Cita-citalah. Bahkan persoalan birokrasi di kampung yang kukatakan akan menyulitkanku pun aku jadikan sebagai alasan.

Tapi ini perkara lain. Ayah sakit. Aku tak bisa menolak. Aku terpaksa pulang.

Rasa pasrah menyelimuti tubuhku ketika pesawatku lepas landas. Aku akan merindukan tempat ini. Kehidupanku di sini.

—-

Bibirku gemetar mengikuti detakan jantung yang berlari kencang. Kutatap tajam matanya di sela-sela air yang memenuhi pelupuk.

Orang ini. Orang yang bertahun-tahun menemani hidupku. Menemani anganku. Orang yang membuatku berani bermimpi tinggi, tapi juga yang meruntuhkan mimpi itu seketika. Orang yang kumaki setiap saat, namun namanya selalu kusebut dalam doa. Orang yang terus kucoba untuk kutinggalkan, namun selalu berhasil kembali dengan berbagai alasan.

Dan kini, setelah dua tahun berpisah, dia kembali ada di sini. Di depanku. Menangis.

“Maafkan aku,” ulangnya lirih.

Fisiknya masih seperti dia yang dulu. Meskipun badannya menjadi lebih sedikit berisi dan muka itu terlihat lebih dewasa dari sejak terakhir aku menatapnya.

Hanya saja, dirinya, jiwanya, bukan lagi dia yang aku kenal. Jiwa itu yang membuatku pergi meninggalkannya. Jiwa yang memberontak, menolak untuk patuh dan tunduk kepada Sang Pemilik Jiwa itu sendiri. Jiwa yang atas nama kebebasan menjadi kebablasan. Jiwa yang pada akhirnya membuatku berpikir ulang untuk selalu bersama dengannya.

Bicara cinta, aku berani bertaruh bahwa aku sangat mencintainya. Bahkan diantara benciku dengan perbuatannya, selalu ada rindu untuk jiwa itu. Selalu ada hati yang merintih bila mengingatnya. Selalu ada doa dalam setiap langkahnya. Dimana pun kami berada, sejauh apapun raga kami berpisah.

Tapi hidup bukanlah hanya perkara siapa yang paling mencinta. Cinta bukanlah pembuktian ego atas nama cinta.

“Maaf, aku ga bisa..” giliranku membuka suara setelah terdiam beberapa lama.

Hening.

Genggaman tangannya pun perlahan melunak. Melepaskanku. Badannya luruh, kemudian berlutut sambil menangis di hadapanku.

Ingin sekali rasanya untuk ikut bersimpuh, kemudian membiarkan organ-organku merengkuhnya. Memeluknya. Mengatakan bahwa aku selalu disini. Aku selalu ada.

Namun yang terjadi adalah badanku tetap berdiri diam di sana. Hanya sanggup memandangnya sambil ikut menangis. Karena pada akhirnya, ketika banyak hal yang tak boleh lagi terucap karena berbagai landasan norma, biarkanlah diam menjadi salah satu bahasa cinta.

NB: Lima, Bagian Pertama http://emeldah.my.id/?p=56

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s