#Nyinyir


Nyinyir

adjective
1. mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang-kadang — , bosan aku mendengarkannya;
ke·nyi·nyir·an n hal (keadaan, sifat) nyinyir

Di dalam kehidupan maya, saya termasuk orang yang memiliki level nyinyir menengah ke bawah. Saya cukup jarang nyampah, baik di twitter maupun facebook, yang isinya kritikan, kritikan dan kritikan. Karena saya termasuk orang yang cukup peduli dengan #pencitraan diri saya di sosial media. Yap, saya menyadari hal itu. Sangat. Apalagi saya juga pernah mendengar tagline, “orang mungkin bisa lupa, tapi internet tidak.” Dan hal itu membuat saya berpikir berkali-kali untuk nyinyir dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekedar bercandaan. Saya ga pengen aja meninggalkan jejak kenyinyiran saya dalam dunia maya.

Di kehidupan nyata, saya termasuk orang yang memiliki level nyinyir menengah ke atas. Saya paling cerewet kalau nonton acara TV yang ga masuk akal dan berbobot, padahal menurut kacamata saya, 75% isi TV ya kebanyakan begitu. Maka, saya memutuskan untuk jarang nonton TV dan lebih membiarkan bunyi detak jarum jam menguasai kamar saya daripada musik sinetron yang menggugah hati nurani saya untuk nyinyir.

Tapi baru saja, entah karena pengaruh hormonal yang lagi PMS, saya ‘nyampah’ sama seorang sahabat lama. Isinya banyak. Saya pertama hanya punya niat cerita mengenai sesuatu hal yang pernah saya alami, tapi pada akhirnya saya jadi ngoceh-ngoceh tentang kelakuan orang-orang di sosial media yang menurut saya nyebelin.

Saya nyinyir mengenai orang-orang yang menurut saya engga banget, yaitu orang-orang yang cuma bisa nyinyir tanpa aksi. Orang-orang yang menurut saya ngomong doank, tanpa berkaca bagaimana perilaku mereka saat ini. Orang-orang yang bertopeng mengajak kebaikan tapi dengan cara yang nyinyir. Maksa. Bahkan mencela mereka yang ga sejalan pikiran dengannya.

Saya mengoceh dan terus mengoceh. Sampai saya berada pada satu titik balik dimana saya mendapatkan tilikan-tilikan, “What is wrong with me?” Kalau saya nyinyir seperti tadi, apa bedanya saya dan mereka? Belum terjawab saya dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tiba-tiba satu pertanyaan besar kembali muncul: “Who am I to judge?”

Salam #nyinyir,

@melduds.

2 Comments Add yours

    1. hahahaha opo toh La… Laaa… :p

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s