Memintal Kata dalam Diam

Karya: @harrykajoddy dalam http://fallicious.tumblr.com/

Minggu sore, saat yang paling nikmat untuk melepas penat. Bersantai bersama buku-buku dan panasnya coklat, ku tengarai menjadi penyebab aku tak keluar kamar sepanjang hujan lebat. Mataku masih terpaku pada sejumlah kalimat-kalimat, yang mengantarkan pada himpunan imajinasi yang saling bekelebat.

Rasanya hujan berbicara bersama ku dalam diam. Ketika tak ada satupun yang mampu membasuh kenangan, sekali lagi hujan menampikkan kesepian. Apa yang akan coba ia sampaikan, adalah rahasia sejati Tuhan yang ku eja dalam berbagai bacaan.

Barangkali hanya risau yang kurasa, saat aku menyelami himpunan puisi dari buku yang kepesan kemarin malam. Aku yang selalu terpana akan keindahan kata, kali ini benar-benar mengagumi ciptaan nya menyusun abjad dalam rima yang sempurna. Seolah lantunan abadi tiap puisi nya menjelma menjadi harmoni rintikan hujan diluar sana.

Lalu, saat sedang asyik membaca, kusadari telepon genggamku bergetar karena sebuah pesan yang masuk, dari seorang sahabat jauh di sudut kota Jogja

Pesan pertama darinya, yang memenuhi tab mention akun twitterku…

“Malam menjelang. Tak mampu memaksa bertamunya terang. Pilihanmu hanya menunggunya berlalu lalang.”

Aku terdiam sejenak. Sahabatku Mey mulai meracau, aku harus menangkap maksud yang tersembunyi dalam sajaknya, dan mencoba memunguti kata-kata dalam otak kanan guna mencari balasannya.

Apa yang berlalu lalang? Apakah rindu, gulana, atau ia yang memaksa bertamu di tengah malam? Saat kenangan sedang tak ingin dipaksakan datang?

Lalu aku menulis…

“Pagi datang. Seolah menghangatkan, betapa birunya kenangan yang kau ciptakan tadi malam, di tengah kesepian.”

Aku mencoba memberinya balasan yang berbau semangat. Karena malam, sepedih apapun cerita yang ia bawa, akan dihapuskan oleh cerahnya pagi. Bersama sinar mentari, yang memberi keteduhan dalam diri.

Tak lama kemudian balasan datang, seolah tak mau aku kekeringan menunggu siraman bintang.

“Tak sempat diri tenggelam dalam cahayanya karena penat yang nenghantam. Kelam.”

Hmmm, kelam, aku sebenarnya menghindari kata-kata itu, karena jemari ini akan selalu mengingat masa lalu, jika berasosiasi dengan kata itu. Pikirku sembari tetap menyeruput coklat dari meja belajarku.

“Kelam. Identik dengan masa lalu yg ingin dilupakan. Seperti kegetiran yg disulam, saat memutar film yang telah usang.”

Agak lama Mey membalasnya, mungkin ia berpikir ulang untuk juga membicarakan masa silam, kemudian…

“Kau pernah mengajarkanku untuk tak kembali ke masa lalu, karena arloji yang kita pakai mungkin bisa berhenti berdetak di masa itu.”

Benar kan dugaanku, batinku pelan.

Aku juga tak ingin sembarangan menggunakan mesin waktu, ia hanya kugunakan saat-saat tertentu, misalnya saat membuat tulisan dan ternyata buntu. Lebih baik aku mengalihkan arah percakapan saja, lalu kutulis…

“Daripada kembali ke masa lalu, aku lebih suka arloji itu berhenti berdetak, saat bersamamu. Tak ada yg lebih indah dari itu”

Karena waktu suka merasa curang, ia bisa -bisanya cepat sekali berlalu, saat kita menghabiskan waktu bersama orang tersayang.

Di ujung sana, sahabatku kembali membalas…

“Jangan! Karena pada satu masa, manusia akan bosan akan keabadian.”

Keabadian? Satu kata pengarti segalanya

Ada benarnya kamu, dalam abadi kita akan bisa melakukan hal berulang-ulang, tanpa pernah takut waktu akan hilang. Tapi bukankah seni kehidupan ada pada waktu yang memberi keterbatasan? Terutama di tiap perjumpaan.

Kubalas saja seperti ini…

“Kau benar, terkadang bersama terbatasnya waktu, rasa itu terlihat lebih menggebu. Seperti senja yang sebentar saja. Meski indah tetap saja disudahi malam.”

Mey tak pernah kehabisan rangkaian kata…

“Demi masa, berjanjilah padaku untuk menjaga setiap detik yang telah dianugerahkan.”

Ahhhh, aku sebenarnya tak terlalu mau berjanji pada Semesta, aku hanya bisa berjanji pada diriku untuk saat ini saja. Sebagai penutup percakapan, aku akan terus mendoakanmu, agar tak pernah lelah menghadapi keletihan, karena semua yang indah selalu membutuhkan pengorbanan, pada awalnya.

“Aku akan menyimpan rindu dalam setiap daun yang berguguran, dan tak ingin pipimu menjadi rumah untuk kesedihan.”

Itu saja, waktu boleh mempermainkan segalanya, kecuali keteguhan kita.

(Ini lah permainan kata bersama sahabatku Emeldah di twitter yang coba kurangkai menjadi sebuah cerita, agar menjadi lebih enak dibaca. tapi keaslian tweet-nya tidak diubah sama sekali)

*With My editing of course.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s