Kelas Malam

Terdiam nalarku tak mampu mencerna.

Ini berbeda, pikirku. Sekian lama aku menjadi pecinta, tak pernah seperti ini rasanya.

Kupandangi wajahnya. Dia tampak begitu sempurna meski hanya dalam balutan sehelai kaos oblong putih dan celana jeans belelnya. Bulu-bulu tumbuh tipis di pipinya, menambah kesan maskulin dibalik wajahnya yang manis. Kacamata bertengger gagah di batang hidungnya, semakin menggambarkan kecerdasan yang dimiliki.

Malam itu, seperti beberapa minggu sebelumnya, kami kembali duduk bersama di sebuah taman baca. Taman baca ini luasnya sekitar sepuluh kali empat meter persegi dengan rak buku memenuhi setiap sisinya. Di bagian tengah terdapat karpet-karpet dan bantal-bantal duduk sebagai tempat membaca.

Taman Baca Damai namanya. Diambil dari nama anak pertama seorang dosen yang mendirikannya. Taman baca ini bukanlah taman baca komersil yang menyewakan buku, melainkan didirikan dengan tujuan agar menumbuhkan minat baca kepada masyarakat sekitar di kampung ini. Gratis, tanpa memungut biaya sedikit pun dari warga yang mau mampir untuk menambah wawasan.

Selain itu, di taman baca ini ada kelas malam setiap hari Senin sampai Jumat. Kelas malam merupakan kelas yang mengajarkan pelajaran kepada anak-anak SD dan SMP sekitar. Guru-guru kelas malam merupakan sukarelawan yang kebanyakan adalah mahasiswa. Dan kami adalah diantaranya.

“Jadi gimana?” Tanyanya. “Mau yah bantuin proyekku?”

Outbond. Lagi-lagi dia memintaku untuk menemaninya menjadi pemandu outbond. Di tengah kesibukan skripsi dan target lulus tepat pada waktunya, menjadi pemandu outbond selama beberapa hari bukanlah pilihan yang bijak.

“Yah?” Dia memandangku dengan muka memelas, “pleaseee…”

Aku mengangguk, tak sanggup untuk berkata tidak.

Yes! Makasih yah.. Aku tau kalau aku selalu bisa ngandalin kamu,” ujarnya sambil tersenyum jahil dan mengacak-acak rambutku.

——–

Masih kuingat pertama kali alasan aku bergabung untuk menjadi guru di kelas malam. Mencari kegiatan sembari berusaha mendamaikan peperangan yang terjadi di dalam batinku.

Sakit. Perih. Kecewa. Marah. Dendam.

Itulah campuran emosi yang jauh dari sempurna. Tapi sial bagiku, hal itulah yang waktu itu aku rasakan.

Dulu aku punya seorang teman dekat. Namanya Rino. Kami berhubungan sejak masih duduk di bangku SMA. Memang waktu itu, kami tidak pernah mengingkarkan hubungan untuk menjadi sepasang kekasih.

“Buat apa status? Kita kan sudah sama-sama tau, bahwa aku sayang kamu dan kamu sayang aku.”

Itu alasan yang dikatakan Rino sewaktu aku bertanya tentang kejelasan hubungan. Masuk akal, pikirku. Sehingga aku tak lagi bertanya kepada dirinya tentang hal itu. Meski sebenarnya hati kecilku terus menduga bahwa akan ada hal yang tidak aku inginkan yang akan terjadi setelahnya, aku memutuskan untuk percaya. Kujalani hari-hari bersama Rino sebagai sepasang sahabat yang saling menyayangi satu sama lain.

Bukanlah ketiadaan status itu yang membuatku tersakiti. Bukan. Tapi tindakan Rino karena hal itu. Rino selalu mengatakan bahwa dia menyayangiku, bahwa akulah wanita yang terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya. Tapi Rino meminta agar dia bebas mendekati wanita lain yang dia suka. Katanya, wanita sepertiku adalah wanita yang harus dijaga. Wanita sepertiku bukanlah untuk dijadikan pacar, tapi istri. Hanya saja, Rino yang masih mahasiswa dan belum mapan, belum siap memperistriku.

Sakit dan cemburu. Itulah yang kerap kurasakan. Wanita mana yang tidak sakit hati diperlakukan seperti ini. Hanya saja aku bertahan karena aku punya ilusi positif yang aku yakini, bahwa suatu saat Rino akan kembali padaku. Memperistriku, seperti janji yang dia selalu katakan. Aku juga percaya bahwa akulah wanita yang terbaik, seperti katanya selalu ketika sedang menenangkanku jika aku protes.

Bertahun berlalu. Setiap waktu aku dan Rino menjadi semakin dekat. Hanya saja, aku tetaplah menjadi sahabatnya.

Atas nama cinta, aku bertahan di atas duka. Aku tak pernah meminta kepada Tuhanku untuk diberikan rasa cinta untuknya. Jika boleh memilih, tidak mengenalnya merupakan pilihan yang bijaksana. Akan tetapi, rasa itu hadir begitu saja. Aku juga sempat mencoba untuk berpaling, tapi aku tak bisa, dan aku tak mengerti alasannya, sehingga kuputuskan menyerah saja dan memberikan yang terbaik.

Sampai suatu saat Rino datang padaku, “aku minta maaf, tapi aku harus menikahinya,”

Ragaku luruh mendengar pengakuannya. Pacarnya hamil dan Rino harus bertanggung jawab. Setelah sekian tahun aku percaya bahwa akulah tambatan terakhir hatinya, aku harus menyerah.

——–

Dan kini, aku di sini. Mencoba memahami perbedaan rasa yang sedang terjadi.

Belum genap tiga bulan aku mengenalnya. Dia guru baru di kelas malam. Seorang pekerja kantoran, bukan dari kalangan mahasiswa seperti kami. Kemarin dulu, sekitar sebulan setelah berkenalan, dia mengutarakan niat untuk mengenalku lebih jauh. Sungguh pilihan yang sulit karena rasa sakit dan tidak percaya dengan makhluk bernama lelaki masih memegang peranan dominan di hati. Hanya saja, setelah berdoa dan meminta petunjuk pada-Nya, kuputuskan untuk mencoba. Aku mencoba untuk percaya di kala ragu dan mencoba untuk melangkah di kala takut.

Hari-hari aku jalani bersamanya. Sehari lepas sehari, tanpa target meski tetap bermimpi. Sosoknya yang baru yang unik dan berbeda dari yang lain memberi warna baru dalam kehidupanku. Dia pekerja keras dan bukanlah seseorang yang pandai berkata-kata. Sikapnya pun terkadang acuh seolah tak peduli. Sungguh berbeda dengan lelaki lain yang mencoba menarik perhatian dan menggumbar janji. Dialah yang selama tiga bulan ini kembali mengisi hari dan harapanku, setelah sebelumnya selama hampir dua tahun aku menutup diri berusaha menyembuhkan luka.

“Maaf yah, kalo ga romantis,” akunya waktu memberiku hadiah lukisan sketsa karyanya.

Jangan kau bayangkan kalau skestsa itu berupa sketsa lukisan wajah atau bangunan tua eropa yang eksotik. Dia malah memberiku skestsa anak kecil yang sedang menunjukkan beberapa ekspresi yang sangat khas komik remaja. Jauh dari kesan romantis, lucu malah.

Aku tertawa sambil memandang wajah usilnya.

“Aku memang ga romantis,” lanjutnya sambil tertawa, “cuek dan aneh lagi ya?”

Ah, dia tidak tahu, aku tak butuh lagi sesuatu yang romantis. Aku sudah kenyang dengan kata-kata manis tak berujung aksi. Biarlah semua menjadi indah dengan tingkahnya, dengan caranya sendiri.

Aku menikmati proses mengenalnya. Proses dimana aku berdamai dan bergulat dengan perasaan takut yang masih kerap hadir. Proses berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan akan masa depan yang belum kutemukan jawabannya. Ya, kali ini memang berbeda. Jika dahulu aku selalu jatuh dalam pelukan cinta, maka sekarang aku sedang berusaha untuk membangun cinta. Dan kali ini aku juga mencoba untuk mulai percaya, bahwa cinta tidaklah identik dengan duka.

“Aku kembali mencintai dalam ketidakpastian.
Karena aku menyadari,
tak ada satu hal pun yang pasti.
Tapi kali ini aku mengamini,
bahwa aku tak lagi berjuang sendiri.”

Teruntuknya, terima kasih telah mengajariku untuk kembali berbaik sangka.

Yogyakarta, 11: 49, 29 Januari 2012

9 Comments Add yours

  1. Verty Sari says:

    Great Duuuud.Jadi ingat sebuah pernyataan yang mengusik hatiku: Syukuri rasa sakit karena patah hati karena itu lebih baik daripada tak pernah mengenal arti cinta karena takut tersakiti…”Aku kembali mencintai dalam ketidakpastian.Karena aku menyadari, tak ada satu hal pun yang pasti.Tapi kali ini aku mengamini,bahwa aku tak lagi berjuang sendiri.”Banyak cinta untuk semua

    Like

  2. Jurkam408 says:

    Dia hadir ketika tidak ada yang menyadari, Dia datang ketika tidak ada yang mengharapkan.Jadi teringat seorang sahabat berkata “lebih baik mengungkapkan cinta, diterima atau ditolak-itu bonusnya. karena cinta yang ditolak lebih berarti drpd cinta yang terpendam”tidak pernah habis membicarakan cinta, senja dan hujan ya Mel.Keep Healthy, de..:)

    Like

  3. @Verty: Selalu ada cinta juga untuk kamu Ve :)@Jurkam: Yeah, love happens when you least expect it.

    Like

  4. cinta itu misteri milik-Nyatidak bisa dipaksakan dan dipastikan kapan, dimana, bagaimana, apa, mengapa, dan dengan siapa akan terjadi. Jadi, kalau cinta itu datang, nikmatilah. Karena itu kado indah dari-Nya. Diberikan khusus kepadamu, karena dirimu adalah ornag pilihan, seperti kado itu pun dipilihkan khusus untukmu…

    Like

    1. Gimana kamu bisa tau klo aku sedang mendapat kado cinta ya Kakak?? :p

      Like

  5. This comment has been removed by the author.

    Like

  6. harrykajoddy says:

    wooww, banyak yang komen content nya yah :)Aku bahas alurnya ya meld, udah runtut dan lancar dalam menceritakan, ga loncat-loncat. Pembaca nyaman bacanya. Twist di akhir cerita juga gurih.kata-kata masalah selera sih. Hanya kalo cerpen, banyakin conversationnya yah, biar ga kebanyakan deskripsi sama penyimpulan :)bagian akhir tuh bisa diprobing lagi, bagaimana cara dia acuh ke kamu, bisa dicontohin dengan percakapan ato gambaran situasi yang bikin kamu mrasa dicuekin… kan jadi nambah panjang nanti cerpennya :)Terus berkarya, pujian itu cemilan, kritikan itu vitamin 🙂

    Like

    1. Hahaha… ternyata masternya muncuuulll… *kabuuur*gini mas, klo conversationnya.. entah km sadarin apa engga, aku ga menulis percakapan yg keluar dari mulut tokoh “aku” ini… sengaja emang… ini nulis di novel yang judulnya “speak!”.. klo ending di probing itu masukan yg bagus.. oke oke. noted pak guru!

      Like

    2. oh ya.. sudah kutambahin tuh,, udah di probing bagian akhirnya.. tapi ga bs panjang2 sih,, takut keilangan sense-nya aku.. hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s