Lima

Aku merebahkan tubuh lelahku di tempat tidur. Dengan pakaian kuliah lengkap, aku berusaha memejamkan mata. Sunyi. Hanya suara jam dinding yang menunjuk ke angka tiga yang terdengar dengan samar.

Kuraih telepon genggam yang terletak di meja kecil di samping tempat tidur.

Kutekan angka lima. Speed dial. Lima merupakan angka spesial bagiku. Terletak di tengah-tengah tombol telepon genggam, dengan sedikit tonjolan yang memudahkan saudara kita yang tuna netra untuk mengenalinya. Lima, angka yang selalu aku tuliskan ketika menulis bulan lahir. Lima, angka yang terletak di tengah, sebagai pusat dari segalanya.

Belum sempat telepon itu tersambung, kembali kutekan tombol merah di bagian kanan. Off.

Aku menghela nafas.

Lima. Lima bulan sudah. Lima bulan tanpa mendengar suaranya. Lima bulan setelah percakapan terakhir waktu itu.

Masih terekam jelas di benakku. Masih terasa sesak di dada ini. Seperti kejadian itu baru saja terjadi beberapa hari yang lalu.

Tak perlu kuceritakan bagaimana kronologisnya. Anggap saja kau sudah mengerti, bagaimana rasa ketika ego bercampur dengan amarah. Untuk sebuah alasan, yang ketika kupikir lagi adalah sesuatu yang bodoh. Aku marah, dia marah. Lalu saling berdiam. Sampai sekarang.

Tak ada gunanya kusesali. Things happen (or didn’t happen) for reasons, right?

Hanya saja, sampai sekarang aku masih tak mengerti apa alasan semua ini.

Kucoba memikirkannya, tapi sepertinya IQ di atas rata-rata pun tak mampu menjawab itu. Mengertilah, ini bukanlah tes inteligensi. Kucoba merasakannya, berharap dari hati aku akan mendapat jawaban. Karena kata mereka, suara hati berasal dari Tuhan. Tapi entah kenapa, sampai sekarang pun aku belum mendapat jawaban. Apa karena aku terlalu sibuk sehingga tak bisa mendengar suara-Nya? Aku tak tahu.

Aku berhenti berpikir. Aku berhenti merasa. Aku terus berjalan. Aku terus bergerak. Aku melakukan hal-hal yang harus kulakukan, seperti mesin. Beku.

Telepon genggamku berdering.

“Halo…”, dengan suara yang dibuat selelah mungkin kuangkat telepon. Aku sedang tak mau diganggu.

“Hei Lan,” suara berat di ujung sana menyapaku, “udah di kos?”

“Udah,” jawabku masih dengan suara mengantuk, “baru aja sampai. Ini mau tidur dulu sebentar. Nge-charge tenaga sebelum kursus ntar malem.”

“Oh…,” nada kecewa terdengar di suara itu, “ya udah, selamat istirahat ya… Tadi cuma mau mastiin kamu udah sampai kos apa belum.”

“Makasih Dit,” aku tersenyum, di dalam hati aku bersyukur masih ada yang memperhatikan, “ya udah yah, bubye…”

Bye.”

Adit namanya. Sudah beberapa minggu ini kita dekat. Lebih tepatnya, dia mendekatiku. Dan aku juga sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa dia mendekatiku dengan suatu maksud. Ingin jadi pacarku dan bla bla bla.

Janganlah kau salah sangka. Aku bukannya tak suka dia. Aku suka dia. Aku suka diperhatikan olehnya. Aku suka disayangi. Siapa sih yang tak suka dijadikan spesial?

Hanya saja untuk bersama, kurasa tak cukup hanya rasa suka. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak dapat aku jelaskan. Sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh rasa itu sendiri.

Chemistry.
Atau apalah istilahnya.
Rasa yang selama ini baru kudapatkan saat bersama dia.

Dia, Limaku.

Kupikir, tak perlu kuberitahu siapa namanya. Tak penting juga, bukan?

Sebut saja Lima. Seperti yang sudah kuceritakan tadi, bagiku “lima” adalah angka spesial. Kita bertemu pertama kali tepatnya tanggal lima September, tujuh tahun yang lalu.

Lima detik pertama aku terpaku melihatnya. Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi kali ini, percayalah bahwa ketika itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hatiku.

Aku banyak menghabiskan waktu dengannya. Bermula sebagai teman, sahabat, lalu dia menjelma menjadi orang yang istimewa.

Kita berbicara dari hati ke hati. Tak banyak bertanya. Saling bercerita. Saling mendengarkan. Dengan dialah aku bisa merasa nyaman. Bercerita apa saja tanpa takut merasa malu. Bercerita tentang rahasia konyol dan mimpi muluk sekalipun.

Hari ini tanggal lima, ulang tahunnya.

Mungkin tahun ini takkan ada lagi kejutan kado dan kue ulang tahun untuknya seperti dulu. Cukup sebuah pesan singkat berkata-kata ucapan standar yang kukirimkan tadi pagi.

Tapi sebenarnya di tahun ini, masih sama seperti di tahun-tahun sebelumnya. Selalu ada doa untuknya. Setiap hari. Setiap waktu. Doa yang menjadi rahasia antara aku dan tuhanku, sembari terus bertanya, “Tuhan, apakah benar aku terbuat dari tulang rusuknya?”

Yogyakarta, 21:17, 2 Maret 2011.

6 Comments Add yours

  1. Hoby Jepret says:

    ceritanya asyik juga..

    Like

  2. walopun postingannya feeling bluegpp..akhirnya kamu nulis juga

    Like

  3. newtha says:

    baru mampir kerumah baru emeld,,feeling so blue abis baca ini meld,,:(i feel like i miss someone too, i just don’t know who,,

    Like

  4. melduds says:

    @hoby jepret: makasih.. :)@mas windy: makasih mas, aku jg blog walking ke wordpress, update terus jg ternyata :p@thatha: aiiihh,,,, cie cieee… :p

    Like

  5. your heart says:

    This comment has been removed by a blog administrator.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s