the thinking is just too much.

Ku percaya alam pun berbahasa,

ada makna di balik semua pertanda.

Firasat – Dewi Lestari

Malam ini saya mendapat BBM dari seseorang yang sudah saya anggap sebagai adik di dalam hidup saya. Isi BBM itu adalah dia “mengadu” bahwa dia sekarang sedang mengalami dilema akan sesuatu hal. Baru saja lulus sebagai sarjana, dan sekarang malah bingung menentukan pilihan hidupnya. Mau ngapain? Mau gimana lagi? Mau dibawa kemana? Mau mau mau yang lain…

Saya yakin, kita semua pasti pernah dipusingkan akan sesuatu hal, yang kita sendiri ga tau harus gimana. Contoh dilema ini adalah contoh yang sangat menarik. Karena ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan, ya balik-balik keputusan ada di tangan kita. Dan untuk memilih keputusan itulah yang sulit, karena di dunia ini bukan hanya ada warna hitam atau putih, tapi juga ada warna abu-abu atau campuran keduanya. Kita ga tau mana yang lebih baik, mana yang lebih buruk. Semuanya tampak samar.

Ketika dia meminta saran saya, saya mengatakan.. “Tenangkanlah diri kamu dulu, baru memutuskan suatu. Dan terkadang, ga semua hal harus dianalisis..”

Mungkin kalimat terakhir yang “ga semua hal harus dianalisis” akan mendapat pertentangan dari teman-teman yang sekarang membaca tulisan saya ini. Apalagi, sedari dulu kita memang dibiasakan untuk memikirkan segala sesuatu. Pikir. Pikir. Pikir. Semuanya dipikirin, sampe akhirnya pusing sendiri.

Ga salah memang, toh kita memang diminta untuk selalu berpikir. “…Bagi orang-orang yang berpikir.”

Tapi saya pribadi merasa, ada kalanya kita sebaiknya berhenti sejenak dari pemikiran-pemikiran yang membuat otak makin pusing. Otak itu ada batasnya, dan yang kita tau ya sebatas pengetahuan kita doang. Padahal banyak hal lain yang ga kita tau, sehingga banyak hal juga yang ga “kemakan” sama otak.

Tadi siang, sebelum di BBM sama dia, saya ngerasa pusiiing banget. Pusing dalam artian psikologis lho ya.. Ngerasa banyak pikiran, kayaknya di otak ini banyak banget yang wara-wiri, kesana-kemari, berisik. Kalo sudah kayak gitu, yang biasa saya lakukan ya menenangkan diri dulu. Diam sejenak. Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan. Doa. Dzikir. Shalat. Sampe saya ngerasa tenang. Terus saya nulis di diary (ini terapi diri saya pribadi yang suka nulis, teman-teman bisa pake cara lain). Nulis apa aja, ga pake mikir. Tapi biasanya kalo pikiran udah agak tenang, tulisannya juga jadi lebih tenang, dan afirmasinya jadi lebih baik. Biasanyaaa…. πŸ™‚

Saya percaya bahwa ketika kita ga tenang, maka otak kita ga akan bisa berpikir jernih. Ini scientific banget lho.. Jantung (heart) kan memancarkan gelombang/getaran ke seluruh tubuh kita, secara dia yang memompa darah ke seluruh tubuh. Jadi kalo jantung kita ga tenang, maka getarannya ke seluruh tubuh juga ga enak, termasuk ke otak. Makanya kalo lagi ga tenang, otak jadi ga bisa mikir. Soalnya syaraf-syarafnya kan juga jadi kacau.

Trus biasanya, kalo udah agak tenang, saya suka dapet pencerahan sendiri. “AHA!” Spontan. Dan (biasanya) diiringi dengan perasaan yakin. Tentang apa yang sebaiknya dipilih, atau tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Kalau saya pribadi sih percaya kalo pencerahan itu datangnya dari Tuhan, apalagi kalau sebelumnya kita meminta pada-Nya untuk memberikan petunjuk melalui doa-doa kita.

Dan Tuhan selalu berbicara dengan cara-Nya. Terkadang kita bisa menangkap dengan cepat maksud-Nya, tapi terkadang juga bisa agak lama juga baru ngeh. Makanya pandai-pandai membaca petunjuk aja, ga usah dipikir, cukup dirasain aja. Karena alam pun berbahasa. Bukannya tidak ada sehelai daun yang jatuh melainkan atas izin Tuhannya? πŸ™‚

Udah ga usah dipikirin, ga semuanya harus dipikirin kan?

The thinkin’ is just too much. – quote film “cin(T)a”

5 Comments Add yours

  1. pasti yg lulus tu angkat 07/yg pengen2 cepat2 lulus?? :Dooh begitu meditaasinya 😯 nsetuju, juz do it πŸ™‚

    Like

  2. Emeldah says:

    @tingtong: silakan masuk… :)@arif: hahaha ga penting itu angkatan berapa dan siapa mas, yg pasti sblm dia ngasih aku insight buat nulis tanpa mikir :p

    Like

  3. Christin Simangunsong says:

    Setuju….. πŸ™‚

    Like

  4. Fadli Idris says:

    Saya pikir BBM itu Bahan Bakar Minyak, seharusnya menulis BlackBerry Messenger (BBM), kata BBM untuk BlackBerry Messenger tidak familiar untuk semua orang. Kok saya jadi protes ya, hehehe. Maaf tak ada maksud menggurui. Salam kenal.

    Like

  5. Emeldah says:

    saya pikir, dengan teknologi seperti sekarang dan kita sedang berbicara di dunia maya, maka kata BBM sudah cukup familiar Mas, salam kenal juga!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s