Cerita Hujan

Ini adalah kumpulan puisi singkat tentang “hujan” yang ga sengaja ‘terbuat’ oleh kita (@nicowijaya, @claradevi, @kyanharizal, @dooremi, dan saya @melduds) di twitter semalam.  Saling membalas dengan kata-kata seindah mungkin, meski dibatasi oleh 140 karakter. Karna saya pikir, rangkaian kalimat-kalimatnya bagus, jadi saya rangkum di sini.

 

(Nico Wijaya)

Hujan mendera dengan menderu-deru.
Menghujam, menderam bersama derauan genting.
Aku, hujan malam ini.

(Clara Devi)

Aku benci hujan.
Adalah perpaduan yang meresahkan ketika bertemu dengan kesendirian.

(Nico Wijaya)

Kenapa kau membenci aku?
Aku hadir menelusup awan pekat, halilintar serta angin yang mendera dengan sangat.
Untuk menemanimu…

(Kiky Anharizal)

Kamu yang peluk hujan, menangis di tarian yang kau reka sekenanya.
Lalu untuk apa berpura sempurna saat hujan itu berdiam kemudian beku?

(Nico Wijaya)

Aku tidak diam.
Aku menyusup ke pori-pori tanah, yang akhirnya kau cium wangi harum selepas itu.
Aku tidak diam, aku hujan.

(Kiky Anharizal)

Adu saja, bilang pada dunia kalau hujan ini malapetaka.
Tapi jangan merengek kalau kau nanti ketiban rindu yang beruntun di ujungnya.

(Nico Wijaya)

Aku merindu? cih!
Justru kau yang akan merindukan aku.
Hujan yang memberi pelangi membias di udara tertinggi…

(Kiky Anharizal)

Hujan ini memperkosa malamku.
Tapi kamu masih boleh bernyanyi rindu.
Nanti biar hujanku yang hapus malam mu biar tuli.

(Nico Wijaya)

Maafkan aku yang memperkosa malammu.
Aku terlalu menderu menderas menghujam bumi bersama angin.
Hey, itu di luar kuasaku..

(Joice Meiliana)

Kalo dia suka hujan, aku lebih suka melihat matahari pagi.
Perbedaan.
Tapi justru karena itulah kita saling melengkapi.

(Kiky Anharizal)

Aku mencintai hujan lebih besar hingga matahari seperti cemburu.
Memang sengaja, agar matahari bisa terus mengadu pada hujanku.

(Emeldah)

Kau hujan, dia matahari.
Dan aku, pelangi.
Ada di antara kalian, memberikan warna dan keindahan.

(Joice Meiliana)

Aku mencintai hujan, tapi juga pelangi.
Namun kami dapat berbagi.
Ritmenya membuat dunia menjadi lebih indah.

(Kiky Anharizal)

Jangan bilang-bilang kalau aku ajak pergi pelangimu.
Nanti hujanku cemburu, lalu marah sama mataharimu.
Nanti aku bisa sedih tak berujung.

(Emeldah)

Rahasiamu aman bersamaku, Hujan.
Asal tak kau sembunyikan di balik awan, karna matahari bisa menelanjangi di setiap celanya.

(Kiky Anharizal)

Tinggal bilang, aku memang tidak pintar merangkai kata,
seperti kebanyakan orang ketika mereka merasa mati dengan dunianya.
Cuma perlu cerita hujan, itu cukup.

(Emeldah)

Hujan pun berhenti.
Pelangi ingin menampakkan diri, tetapi tak jadi.
Katanya, “Untuk apa? Ini kan sudah malam”.
Lalu ia pergi. Menyendiri.

5 Comments Add yours

  1. nicowijaya says:

    endingnya suka, memang hujan sudah berhenti, merubuh bumi….

    Like

  2. Emeldah says:

    @nico: makin lama makin ngelantur ya? Hahaha kapan2 kita harus buat lagi! :d@indah: makasih un 🙂

    Like

  3. Erlina says:

    ringan tapi inspiratif…terus nulis ya mel….

    Like

  4. Emeldah says:

    makasih Er… 😀 terus semangati saya! hehehe

    Like

  5. ox nugroz says:

    nice share…. :D”dikala hujan,ia tau bagaimana cara menyegarkan cinta…matahari pun lebih lihai dalam menghangatkan cinta selepas hujan reda …dan pelangi menyelakan kilaunya dengan memberikan warna cinta diantara keduanya….”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s