Ikhlas

Dia menatap mataku cukup lama. Lalu kembali memandang ke luar jendela. Kami duduk berhadapan.

Remangnya cahaya lampu menambah kesan romantis di kafe ini. Samar terdengar lantunan lagu dari beberapa speaker yang mengantung di tiang-tiang.

“Jadi?” Aku bertanya memecahkan jarak diantara kita. Sudah cukup lama kami terdiam. Setelah sebelumnya aku menumpahkan segala perasaanku yang pernah ada untuknya.

“Aku minta maaf,” jawabnya singkat. Matanya menunduk, seakan tak rela jika aku melihat ada yang berlinang di sana.

Suaranya terdengar bergetar.

Dua jam yang lalu kami masih tertawa bersama. Mengikmati hidangan yang disajikan oleh koki terbaik di kota ini. Sampai aku bercerita padanya tentang sebagian kisah dari diriku.

Diriku yang selama ini secara diam-diam mencintainya. Lalu bertahan untuk tidak memberi tahunya, atas dasar prinsip bahwa aku seorang wanita. Atas dasar keyakinanku, aku tahu bahwa sebenarnya dia sudah tahu. Dan malam ini dia juga tidak menyangkal akan hal itu.

Lalu aku ingatkan dia akan kronologis asal mula persahabatan kami. Dan dari persahabatan itu, tumbuh rasa pada hatiku. Rasa yang kalau boleh aku memilih, aku tak ingin dia ada.

Lima tahun. Aku pendam rasa itu. Sakit. Karena rasa yang dipendam itu adalah sumber dari segala penyakit. Tapi aku tahankan sendiri. Walau tak munafik aku juga ingin ada dekapan hangat darinya yang membantu untuk meredam rasa itu.

Aku, seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Setia mendengarkan keluh kesah tentang pergulatan hidup di dunia. Juga menemani dia bercerita tentang wanita-wanitanya. Yang datang dan pergi semaunya. Yang membuatku iri, sekaligus marah. Mengapa mereka tidak bisa bersyukur dan menjaga dirinya saja? Tahukah mereka kalau aku pernah ingin sekali berada di sana?

Sampai suatu saat, aku menyerah. Berhenti berharap. Mencoba melihat ke arah lain di dunia ini. Bukan hanya ke arahnya saja. Masih banyak hal-hal lain. Masih banyak cinta yang lain.

Sampai aku menemukan cinta yang lain itu. Dalam sosok yang berbeda. Tapi sama indahnya.

Keluargaku. Sahabat-sahabatku. Orang-orang di sekitarku. Dan lelakiku.

Aku lega. Aku telah bebas. Dari genggaman rasa sakit mencintainya.

Meski rasa sayang itu tetap ada. Rasa sayang seorang sahabat. Bukankah selama ini aku hanyalah seorang sahabat baginya?

“Aku tak tahu kalau aku pernah menyakitimu,” lanjutnya. “Mungkin sebenarnya aku tahu, tapi aku abaikan. Aku tak menyangka kalau kamu bisa sesakit itu dulu. Kalau rasamu begitu besar. Aku pikir, rasamu hanya sedikit perasaan suka.”

Lalu aku berpura-pura untuk tidak mengerti. Karena aku takut. Aku takut untuk menghadapi. Aku takut melangkah. Aku takut bermimpi. Sekali lagi aku minta maaf.”

Air matanya menetes. Kuhapus dengan tanganku. Bukan kali pertama dia menangis denganku. Tapi ini kali pertama dia menangis karenaku.

“Sudahlah,” jawabku, “semua sudah berlalu.”

Aku tersenyum. Aku tahu alasan air matanya. Penyesalan. Dia menyesal telah mengabaikanku selama ini. Seorang wanita yang setia menemaninya dalam suka dan duka, dan mencintainya sepenuh hati. Seorang wanita yang sebenarnya juga dia sayangi.

Ada sedikit rasa senang di hati, menyadari bahwa ada sedikit rasa cemburu di hatinya, karena aku telah bisa beranjak pergi dari bayang-bayang dirinya. Dia sahabatku, tak sulit bagiku untuk menebak apa yang dirasakannya.

Kupegang pundaknya. Dia mengangkat kepalanya, kembali menatapku.

“Aku sahabat yang buruk ya?” Tanyanya sambil tertawa kecil.

Aku menggeleng. “Kamu mengajariku banyak hal.”

Sorot matanya terlihat bingung.

“Kamu mengajariku rasanya mencintai. Kamu juga mengajariku rasanya melepaskan. Bukan menyerah, tapi mengikhlaskan. Belum tentu kita akan lebih bahagia jika berdua. Belum tentu kisahnya akan seindah ini jika kita bersama.”

“Kamu bilang ini indah?” Tanyanya.

“Ya,” aku mengangguk mantap, “karena sekarang aku tahu apa rasanya ikhlas.”

Ucapanku menutup percakapan kami di malam itu.

Dan ketika kita ikhlas, Tuhan membuat semuanya menjadi lebih indah.

Palembang, 22 Maret 2010

17 Comments Add yours

  1. Emeldah says:

    Haha bukan mas.. Ini cm sebuah cerpen. Hehe hope u like it!

    Like

  2. Triana says:

    ini fiksi mbak 🙂

    Like

  3. Emeldah says:

    Yup. Ini fiksi. Semoga suka ya.. 😀

    Like

  4. justitia says:

    assalamualaikum…nemu link dari blog teman..jujur,saya nge fans sama tulisan-tulisan mba emeld..salam kenal mba..ijinkan saya jadi fans berat hehehhehe

    Like

  5. Emeldah says:

    @Justicia: waduh.. saya juga masih belajar koq mbak.. jangan segitunya *blushing*@cahaya: hahaha kagaaakkk!!!

    Like

  6. justitia says:

    ah jangan panggil mba ah..saya masih anak2..(15 th ples2)hehehheijin ngelink blog ya mba..:)

    Like

  7. cahaya says:

    mb emeld… tu buuu justi jgn dipanggil “mbak” tp “mbah”, hehehe…piss jus

    Like

  8. Emeldah says:

    @justi: Ok Ok, silakan Justi :D@cahaya: temenmu toh Yu? hehehe

    Like

  9. nda says:

    hai hai,, salam kenal 🙂 sesama anak WK.. hehhe..blog nya bagus :)suka bikin cerpen juga ya..eh, aku suka bagian ini.. mengharukaaaannn..“Kamu mengajariku rasanya mencintai. Kamu juga mengajariku rasanya melepaskan. Bukan menyerah, tapi mengikhlaskan. Belum tentu kita akan lebih bahagia jika berdua. Belum tentu kisahnya akan seindah ini jika kita bersama.”

    Like

  10. Emeldah says:

    Hai hai salam kenal kembali… ayo kita kopdar! Lho? heheheIya, suka bikin cerpen juga.. tapi punyamu lbh banyak yah! :))makasih ya udah mampir… dan komen… 🙂

    Like

  11. Emeldah says:

    hahaha aku aja bingung iki piye carane Ndoy! wkwkwk

    Like

  12. Delicious Masubah says:

    Mel, boleh gak aku buat cerita yang ini tapi dari versi cowok?

    Like

  13. maaf sebelumnya jika tulisan di blog sayam elanggar ijin dan hak cipta Emeldah. tetapi kemarin saya telah meminta ijin di situs ini dan tidak dibalas. jadi, tulisan tsb saya terbitkan. jika dirasa Emeldah melanggar. tulisan tsb saya cabut kembali

    Like

  14. Emeldah says:

    wah, terima kasih banyak sudah membuat versi cowoknya… saya malah terharu. btw, salam kenal ya!

    Like

  15. Anes says:

    Emel, bagus cerpen nya..suka sekali baca nya..ayo Mel bikin tulisan2 lain nya…ditunggu ya 😉

    Like

  16. Emeldah suka atau tidak? maaf kalo hasilnya jelek…mohon jejaknya ditinggalin..terima kasih atas ijinnya..

    Like

  17. dara says:

    😉 emel…aku jd kpengen tau gmn kisah si perempuan selanjutnya :mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s