Desa Sungai Tebal

Kali ini Saya ingin bercerita pengalaman saya beberapa minggu lalu pergi ke suatu desa yang bernama Desa Sungai Tebal.  Desa ini terletak di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Perjalanan ke desa ini dimulai dari perjalanan saya dan orang tua saya naik mobil travel dari Kota Jambi menuju  Kota Bangko, yang  merupakan ibu kota Kabupaten Merangin, yang memakan waktu kurang lebih enam jam.  Sesampainya di Bangko, kami dijemput oleh seorang supir yang kemudian mengantarkan kita menuju Desa Sungai Tebal tersebut.  Untuk menuju  ke desa itu, kami harus melewati beberapa desa, beberapa jembatan darurat dan melewati hutan di kiri kanan jalan.  Kondisi jalannya, hummm… Jangan ditanya! Dari Kabupaten Bangko menuju ke desa hanya sekitar 80-90 km, tetapi “harus” ditempuh selama kurang lebih empat jam.

Pemandangan dalam Perjalanan
Pemandangan dalam Perjalanan

Sesampainya di desa, ternyata perjuangan saya terbayarkan.  Yang pertama, karena kakak kesayangan saya, Arie Suseno, terlihat sangat senang ketika saya datang.  Yang kedua, beberapa sanak keluarga saya (dan juga orang tua saya yang menemani saya sepanjang jalan) juga terlihat senang. Wah, ternyata kedatangan saya memang sudah ditunggu! 😀

Desa ini merupakan desa tempat tinggal kedua orang tua saya.  Bukan, desa ini bukan tempat asal mereka ataupun saya.  Karena sebenarnya, ibu saya berasal dari suatu kotamadya yang bernama Pagaralam di Sumatera Selatan — Ok, suatu saat saya akan mencoba bercerita banyak tentang Pagaralam, tempat saya menghabiskan masa kecil. Insha Allah… — dan ayah saya berasal dari negeri seberang. :p  Desa ini adalah tempat orang tua saya bekerja.

Di Kebun Kopi
Di Kebun Kopi

Kehidupan penduduk di desa ini sungguh menyenangkan.  Bagaimana tidak, ketika saya berada di sana, saya agak heran melihat cara kerja mereka.  Sebagian besar pekerjaan mereka adalah petani kopi.  Mereka pergi ke kebun, merawat tanaman, memeberi racun hama, kemudian menunggu tanaman kopi tersebut berbuah.  Sembari menunggu, mereka akan banyak menghabiskan waktu dengan bermain catur sambil merokok dan minum kopi, ngobrol sambil merokok (ok, untuk yang perempuan tidak merokok), dan atau ngobrol sambil minum kopi.  Waktu dihabiskan dengan santai, berbeda jauh dengan saya yang terkadang merasa waktu 24 jam sehari itu kurang.

Tersedia Telpon Umum
Tersedia Telpon Umum

Waktu disana banyak saya habiskan dengan membaca atau ngobrol dengan penduduk, tetapi tanpa minum kopi. Hehehe Soalnya disana saya tidak bisa sibuk ngautis sendiri selain membaca.  Listrik yang berasal dari PLTA desa sebelah, baru nyala pukul empat sore, sampai pukul delapan pagi. Untuk masalah komunikasi, hummm… Di Desa Sungai Tebal sangat susah mendapat signal HP.  Hanya beberapa titik yang bisa mendapatkan signal operator Telkomsel.  Tetapi, untuk operator Ceria, umumnya bisa dapet signal dengan baik disana.

Hari kedua ketika di sana, saya di ajak Kak Ik (panggilan sayang untuk kakak saya) jalan-jalan ke desa sebelah dan ke area sebuah hutan lindung.  Alam di desa ini masih begitu indah.  Sewaktu saya bangun di pagi hari, saya masih dapat merasakan uap air dingin yang berhembus ketika saya berbicara.  Banyak juga cerita rakyat di sini, ada yang agak tak masuk akal seperti penduduk yang masih percaya akan adanya siluman macan jadi-jadian, ada juga yang masuk akal tetapi unik, seperti cerita desa sebelah yang merupakan desa pindah.

Suasana Area Hutan Lindung
Suasana Area Hutan Lindung

Yang dimaksud dengan desa pindah itu, mirip dengan konsep pindah rumah, hanya saja ini desa yang dipindahkan.  Jadi dulu ceritanya, suatu desa yang bernama Desa Nilo dingin.  Desa ini berada di dalam hutan, sehingga sering kali penduduk desanya menjadi santapan binatang buas.  Karena itu, sekitar 50 tahun yang lalu, penduduk desa beramai-ramai memindahkan desanya supaya lebih dekat dengan jalan.  Jadi mereka mengangkut papan-papan dinding rumah, atap, beserta isinya.

Rumah-Rumah yang "Dipindahkan"

Hal yang menarik lainnya, disana masih terdapat banyak sekali pemandangan alam yang masih asli dan bagus sekali.  Seperti sebuah danau besar yang disebut Danau Pauh, hutan lindung yang masih mempunyai pohon berdiameter kurang lebih dua meter, air terjun atau curugh di dalam hutan, Batu Larung Situs Nilo Dingin, dan bahkan saya sempat menemukan bunga bangkai (tetapi sepertinya bukan bunga rafflesia) ketika sedang berjalan-jalan di sana.  Oh ya, tempat ini juga masih sangat dekat dengan pemukiman suku anak dalam atau suku kubu Jambi.

Batu Larung-nya di dalam Hutan
Batu Larung-nya di dalam Hutan
Ada yang tau itu bunga apa?
Ada yang tau itu bunga apa?

Menarik bukan? 😀

7 Comments Add yours

  1. areef says:

    waaaaahemeld g ngajak2 ni..poto pertama tu poto kuda bw paan??bunganya g dibw pulang tu meld??he9

    Like

  2. Nike says:

    kapan-kapan ajak nike sekeluarga ye dud! :p

    Like

  3. Emeldah says:

    @areef: kuda bawa barang tuannya. Hehe itu bunganya bau bgt mas. Aku kepegang.. Bau tanganku kyk abis megang iik ayam. Huek..@nike: tunggu alaya gede y ke.. Kasian jalannyo jelek n jauh.. Cc dud b seumur2 cm sekali ke sano gara2 punyo anak kecik trus. 😀

    Like

  4. crizosaiii says:

    weehh.. ini dia postingan pas balik kemaren yo.eh, bagus nian tuh pemandangannyo. hutang lindungnya keren! 😀

    Like

  5. Emeldah says:

    Ayo travelling kesini Kak! Cari jodoh bunga desa lah kau! Haha

    Like

  6. han says:

    woh pas nikahan kk mel kmaren ya?!?!?!itu bunga bangkainya napa g dibawa pulang mel…ehehehelumayan buat koleksi rumah dengan plus2… plus uler

    Like

  7. Emeldah says:

    @han: hah? Siapa yg nikah Han? Hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s