Secangkir Cinta di Kedai Kopi

Vani mencoba untuk memejamkan mata. Mencoba terlelap. Tetapi tak sedikit pun rasa kantuk mendera dirinya. Bola matanya tetap terjaga, memandang langit-langit kamarnya yang berwarna merah muda. Hatinya gundah memikirkan seseorang. Seseorang yang sering menari-nari di pikirannya akhir-akhir ini.

Laki-laki itu bernama Rizky. Vani mengenal dirinya belum lama ini. Bermula dari pertemuan singkat di sebuah kedai kopi, ketika dia sedang mengerjakan tugas kuliah bersama sababatnya Anis.

“Mas Rizky!” Anis berteriak memanggil seorang laki-laki bertubuh jangkung yang sedang membayar pesanannya di meja kasir.

“Hey, Anis. Apa kabar?” Sapa laki-laki yang bernama Rizky itu sambil berjalan mendekati mereka.

“Baik,” jawab Anis, “Hei, kenalin temanku.”

“Rizky..,” sapa Rizky.

“Vani..,” sahut Vani sambil tersenyum.

Pertemuan itu terjadi kira-kira enam bulan yang lalu. Dan berlanjut menjadi sebuah intensitas dalam berkomunikasi antara Vani dan Rizky. Bermula dari facebook, chatting, sms-an, sampai lari pagi ataupun makan malam bersama.

Tapi tak sedikit pun ada kata cinta terucap. Jangankan untuk terucap, disinggung pun tidak sama sekali. Hanya teman. Itu jawaban Vani ketika beberapa teman kampus mulai menanyakan siapa laki-laki yang kerap bersamanya akhir-akhir ini.

Vani tidak berani berharap banyak. Waktu mengenal yang hanya beberapa bulan merupakan waktu yang sangat sempit untuk berbicara cinta. Walau sebenarnya untuk mencinta, kita tidak butuh banyak waktu. Ketika cinta itu datang, ia akan datang begitu saja. Begitu pula ketika ia mau pergi, cinta tak pernah mengucap kata pamit.

Rizky pun tidak pernah menyinggung masalah perasaan di depan Vani. Dia tidak pernah menggumbar kata-kata, walaupun hal yang telah dilakukannya untuk Vani lebih dari sekedar perkataan. Dia segera datang membantu ketika ban motor Vani bocor, atau ketika komputer Vani terkena virus. Dia meminjamkan film-film dan buku-buku yang Vani sukai. Dia mengajak Vani bermain di arena bermain ketika Vani sedang merasa sedih. Dia selalu ada untuk Vani.

Hampir setiap hari mereka berkomunikasi, berbicara banyak hal mulai dari hal-hal sepele sampai tentang idealisme. Hampir setiap hari. Selama enam bulan ini.

Sampai suatu ketika, Rizky mendapatkan panggilan kerja di luar kota. Terpisah jauh dari Vani.

“Kamu jaga diri ya Mas, keep contact!”

Itulah kalimat terakhir yang Vani katakan untuk Rizky di sore itu. Di saat Rizky mengajaknya ke kedai kopi tempat mereka pertama kali bertemu, untuk mengabarkan perihal keberangkatan dirinya besok.

Dan Rizky menjawabnya dengan tersenyum. Pahit.

***

Satu tahun kemudian.

Waktu berlalu dengan begitu cepat. Setelah kepergiannya, Rizky sangat jarang menghubungi Vani. Untuk beberapa saat, Vani berusaha untuk terus mengubungi Rizky. Tetapi tanggapan dari Rizky tidak pernah sesuai harapannya.

“Mas sibuk, telepon nanti malam aja ya..”

Ketika sudah malam, telepon Vani juga tidak mendapat jawaban.

Maaf, semalem Mas sudah tidur.

Sender: Mas Rizky

Itulah bunyi sms yang Vani dapatkan di keesokan paginya. Begitu terus-menerus. Tak jarang telepon atau pesan dari Vani tak mendapat balasan. Rizky sangat susah dihubungi.

Sampai suatu ketika, Vani tidak mau untuk mengubungi Rizky lagi. Vani mempunyai prinsip bahwa dia adalah seorang wanita, dan seorang wanita tidak pantas untuk mengejar laki-laki. Jika memang Rizky menginginkan dia, Rizky bisa mengatakan hal itu kepadanya. Bukankah jarak yang jauh bukanlah alasan untuk ketidakberlangsungannya sebuah hubungan?

Tapi mungkin Rizky memang tidak menginginkannya, pikir Vani. Rizky tidak cukup berani untuk menyatakan perasaannya. Atau memang sebenarnya perasaan itu tidak pernah ada di hari Rizky? Apakah Rizky hanya mencoba untuk membuat dia senang, lalu kemudian dengan tanpa beban meninggalkan dirinya? Atau jangan-jangan dia sudah mempunyai perempuan lain di sana?

Pikiran-pikiran seperti itu sering sekali berkelebat dalam diri Vani. Menerka. Menebak. Sepertinya benar, tetapi sepertinya juga tidak sepenuhnya benar. Sehingga Vani memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal itu lagi.

Sejak kepergian Rizky, Vani mencoba untuk tidak terpuruk di dalam kesedihannya. Dia mengikuti berbagai macam kegiatan. Praktikum. Asisten penelitian dosen. Belum lagi beberapa kegiatan organisasi kemahasiswaan yang diikutinya.

Vani mencoba berlari, menghindar dari rasa sakit yang kerap menghantuinya. Rasa sakit itu merupakan perpaduan dari rasa kesal, rindu, kecewa dan rasa sayang yang tak tersampaikan. Rasa yang tidak ingin Vani rasakan. Rasa yang kalah oleh perasaan senang ketika Vani sedang sibuk dengan dunianya, ataupun ketika sedang tertawa bersama sahabat-sahabatnya.

Tapi ternyata rasa itu tak pernah pergi. Rasa itu kembali datang ketika Vani sedang sendiri. Rasa yang kerap menganggu waktu-waktu sebelum tidurnya. Yang kemudian dia harapkan dapat hilang seiring hilangnya kesadaran ke alam mimpi.

***

Suatu malam di suatu sudut kota.

Seorang laki-laki jangkung sedang duduk di sebuah kedai kopi. Mencoba memusatkan pikiran pada laptop yang terletak di depannya. Pekerjaannya menumpuk. Besok deadline. Kehidupan metropolis yang kejam membuat dia harus tetap bekerja di malam selarut ini.

Kedai kopi. Tempat yang mengingatkan dirinya pada seorang perempuan. Perempuan itu cantik, berambut panjang, bertingkah laku seperti anak manja, tetapi sebenarnya sangat dewasa.

Perempuan yang sangat ingin dia hubungi. Hanya untuk mendengar suaranya, mendengarkannya bercerita tentang kehidupan kampus yang menyenangkan.

Ah, lupakan. Seperti ada bisikan yang di dalam dirinya. Perempuan hanya akan membuatnya lemah. Perempuan akan menuntutnya untuk selalu memberikan kabar setidaknya beberapa kali seminggu. Lebih parah lagi, untuk hubungan jarak jauh, perempuan akan menuntut untuk didatangi setidaknya dua kali dalam setahun.

Dan dia harus mengejar karirnya. Dia ingin segera sukses, sehingga tidak ada lagi orang yang bisa meremehkan dirinya seperti yang dilakukan ayah tirinya. Dia akan membuktikan pada dunia bahwa dalam jangka beberapa tahun dia bisa menjadi orang hebat. Tanpa bantuan siapapun. Tanpa uang ayah tirinya.

Dia tidak ingin lemah karena perempuan. Ketika dia sudah sukses, akan banyak perempuan yang menginginkan dirinya. Kejadian tahun lalu itu adalah suatu ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan yang membuat dia jatuh cinta.

***

Tiga tahun berlalu sejak pertemuan pertama mereka.

Dan kini Vani dan Rizky duduk berhadapan, di kedai kopi tempat mereka pertama kali bertemu.

“Hai Mas,” sapa Vani sambil tersenyum, “Apa kabar?”

Rizky tersenyum. Dia tahu Vani hanya berbasa-basi. Semalam, dia sudah berbicara panjang lebar dengan Vani di telepon. Mulai dari menanyakan kabar, meminta maaf karena tidak pernah menghubunginya, sampai ke ajakan bertemu di kedai kopi ini.

Hatinya berdebar. Perempuan itu. Perempuan yang selama ini ia pikir dapat ia lupakan begitu saja. Perempuan yang selalu berusaha ia sangkal keberadaannya selama ini. Dan perempuan itu sekarang duduk dengan anggun di depannya.

Vani terlihat berbeda sekarang. Dandannya biasa, atasan kemeja sehabis pulang kantor dan celana panjang berwarna hitam. Hanya saja, ia terlihat sangat dewasa. Senyumnya juga tidak berubah, terlihat tulus dan cantik seperti biasanya.

“Baik,” Jawab Rizky ,”Kamu?”

“Alhamdulillah baik.

Mereka terdiam. Rizky sudah berbicara terlalu jauh semalam. Dimulai dengan penyesalannya meninggalkan Vani, sampai ke ajakan untuk membina hubungan ke tingkat yang lebih serius.

Rizky yang sekarang telah sukses. Perusahaan tempatnya bekerja mempercayakan suatu posisi penting pada dirinya. Dalam jangka waktu kurang dari tiga tahun, ia telah bisa menjadi pimpinan cabang. Belum lagi bisnis rumah makan tradisional franchise yang membuat pundi-pundi uangnya bertambah.

Kini dengan usia dua puluh lima tahun, ia sudah dapat membeli sebuah mobil mewah dan rumah di kawasan yang cukup elit dengan uangnya sendiri. Hal yang ia rasa cukup untuk membuat ayah tirinya mengakui kehebatannya.

“Bagaimana Van?” Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Rizky.

Vani terdiam. Dia binggung. Semalam Rizky menyatakan bahwa dia menginginkan suatu hubungan yang lebih serius. Ia menginginkan Vani untuk jadi ibu dari anak-anaknya kelak. Vani bingung, bukan karena dia tidak tahu harus menjawab “ya” atau “tidak”.

Yang membuat Vani bingung adalah pertanyaan mengapa Rizky menghilang selama ini? Kemana dia ketika Vani sedang merasa sedih? Kemana dia ketika Vani sedang didera oleh rasa sakit merindukannya? Apakah benar ada perempuan lain, dan kemudian hubungan mereka tak berhasil, lalu Vani menjadi pelarian?

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu sudah diutarakan Vani semalam. Dan Rizky bersumpah bahwa tidak ada perempuan lain. Hanya Vani.

“Lalu kenapa baru datang sekarang Mas? Kenapa kamu menghilang selama ini?”

“Maafkan aku Van,” Rizky menjawab dengan suara tertahan, “aku hanya ingin berfokus pada karirku.”

“Lalu kenapa kamu kembali Mas?”

“Karena aku merasa, semua yang aku raih selama ini tidaklah lengkap tanpa kamu, Van,” Rizky menghela nafas.

Bukan itu jawaban yang Vani inginkan. Andai saja cinta adalah alasan terbesar yang membuat Rizky kembali.

“Kapan kamu merasakan hal itu Mas? Setelah kamu meraih semua mimpi-mimpi Kamu?” Suara Vani berbisik dan meninggi.

Rizky terdiam. Vani ingin menangis, tapi ditahannya. Dia ingin marah dengan orang yang duduk di depannya ini. Yang seenaknya saja datang, lalu pergi, dan sekarang datang kembali memintanya untuk dijadikan istri.

“Apakah Kamu tahu Mas, bahwa aku pernah ingin jadi bagian yang menemanimu meraih mimpi-mimpi ini? Bukan hanya sebagai pelengkap mimpi-mimpi itu sendiri, “ suara Vani bergetar.

“Maafkan aku Van….”

“Sekarang, semua mimpimu sudah tercapai Mas. Dan ada banyak perempuan yang menginginkan laki-laki sukses seperti Mas. Carilah perempuan-perempuan seperti itu. Tapi jangan cari aku.”

Vani kemudian berjalan meninggalkan Rizky. Sejujurnya, perasaannya terhadap Rizky masih ada. Tetapi ia sudah terbiasa dipaksa untuk mengabaikan perasaan itu. Sehingga lama-kelamaan perasaan itu mengikis. Menipis. Dan hampir habis.

Lalu untuk pertama kalinya air mata Rizky menetes. Karena dia menyadari bahwa dalam perjalanan mengejar mimpi, hatinya telah mati. Tak jauh berbeda dengan hati ayah tirinya, orang yang paling ia benci.

Yogyakarta, 10 Desember 2009.

17 Comments Add yours

  1. areef says:

    waah..emeld dah mule nulis lagi,,skg kykna dah mo jd novelis ni^^

    Like

  2. kiT says:

    🙂 :)dud, judulnya love begins at the coffe shop..menurutku si dud, banyak yang ga dicritain,mulai dai ayah tirinya, menurut ku itu penting..trus cara ketemuan mereka kurang gmana gituuuu,kurang dramatis… ;pbeberapa si, tapi overall yang aku suka pilhan kata2 mu,kerennn!hehe.. alurnya juga bagus…sepertinya kamu tau mau diapain…bener – bener kamu bgt.. ;))

    Like

  3. Emeldah says:

    @areef: doakan saja ya mas.. Ini jg msi belajar.. :D@kit: judulnya knp? Lucu kan? Drpd emel begins.. (Batman begins mksdnya)Yup yup thx masukkannya bang! 😀

    Like

  4. Nike says:

    ini cerpen dud? bagus. 🙂

    Like

  5. Emeldah says:

    @alle: knp pada ketawain judulnya sih? Aku kan bingung nentuin judul. Hehehe@nike: bukan Ke.. Gudeg. Hehe ya cerpenlah say 🙂

    Like

  6. kiko says:

    knapa yah alur crita ini ngingetin aq sm seorang tmen aq…apa krn mungkin ini based on true story yg storynya masih jalan skrg?? hehe..

    Like

  7. Shintia Sersansie says:

    mel, aku entah kenapa lgsg sedih baca judulnya.. 😦 mungkin karna dulu aku pernah punya romantic story di sebuah cafe di Bandung yg namanya Roemah Kopi. ngga ada hubungannya sama yg kamu tulis sih, hehe! tp tiba2 teringat aja. btw, I love ur web! 😀

    Like

  8. Emeldah says:

    romantic story? ouch. ouch. ouch.I would like to hear that… :phehehe bcanda… thx ya Say udah mampir,, sering2 komen aja 😀

    Like

  9. Shintia Sersansie says:

    oke oke..segera aku tulis ceritanya di callmesleepingbeuty.blogspot.com 😀

    Like

  10. Shintia Sersansie says:

    uupps! maksudnya callmesleepingbeauty.blogspot.comsalah ketik hehehe!

    Like

  11. Emeldah says:

    Guys, please open: http://callmesleepingbeauty.blogspot.com , sahabat saya punya cerita yg seru dan menarik ttg sebuah tempat bernama coffee shop. Hehe@Han: fitnah itu lbh kejam drpd tidak memfitnah! 😀

    Like

  12. Emeldah says:

    Terima kasih dila, sering2 mampir yaaa 😀

    Like

  13. sanni says:

    sukaaaa cerita ini… T_Tya..kadang laki2 mengganggap kita sebagai penghalang karirnya, penghambat kebebasannya…hmm..Tuhan yang mengatur semua…

    Like

  14. Emeldah says:

    @sanni: makasih Un.. ayo unni juga bikin cerita,, posting di blog, hehehe

    Like

  15. bangkit says:

    eh,based on true story bukan ya? hehe…nulis lagi dud.. ! 🙂

    Like

  16. Emeldah says:

    true story true story palelu… hahahabentar bang, sibukk!! anak mapro ini, hahaha

    Like

  17. bangkit says:

    true story..haha!iya lah,yang 2 taun lagi jadi psikolog.trus jadi dosenn.trusss………:))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s